Penelitian Tindakan Sebagai Salah Satu Bentuk Penelitian Kualitatif

Penelitian tindakan adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru, strategi baru atau pendekatan baru untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain (Suryabrata,1983). Di samping memiliki pengertian di atas, penelitian tindakan atau Action Research juga merupakan langkah-langkah nyata dalam mencari cara yang paling cocok untuk memperbaiki keadaan, lingkungan, dan meningkatkan pemahaman terhadap keadaan dan atau lingkungan tersebut McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001).Penelitian tindakan merupakan penelitian yang diarahkan untuk memecahan masalah atau perbaikan. Guru-guru mengadakan pemecahan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam kelas, kepala sekolah mengadakan perbaikan terhadap manajemen di sekolahnya. Penelitian ini difokuskan kepada perbaikan proses maupun peningkatan hasil kegiatan. Penelitian tindakan juga biasa dilakukan dengan meminta bantuan seorang konsultan atau pakar dari luar. Penelitian tindakan yang demikian diklasifikasikan sebagai penelitian tindakan kolaboratif atau collaborative action research.

Sementara itu, Grundy (1995) menjelaskan bahwa action research merupakan usaha perbaikan pemahaman, cara dan kondisi yang dilakukan secara kolaboratif. Hal serupa juga ditegaskan oleh Sagor (1992) yang mengatakan:“Action research is conducted by people who want to do something to improve their own situation”. Senada dengan para ahli lainnya, Calhoun (1994) juga menjelaskan bahwa action research merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas dan penampilan organisasi.Pada tahun 1984 para guru di Australia sudah diinstruksikan oleh Kepala Sekolah untuk mereview apa yang sudah dikerjakan. Hasil review ini dirumuskan untuk perbaikan langkah selanjutnya. Pada saat itu para Kepala Sekolah dan guru menyebut langkah-langkah ini sebagai Penelitian Tindakan atau Action Research, namun menurut McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001). hal seperti ini tidak termasuk dalam kategori penelitian tindakan karena guru melakukan kegiatan tersebut atas perintah Kepala Sekolah, dan guru tidak tahu apa yang sedang mereka kerjakan. Hal ini ditegaskan kembali oleh McTaggart yang menyatakan bahwa peneitian tindakan adalah penelitian collective self reflective yang dilakukan oleh partisipan dalam ilmu sosial dan pendidikan untuk memperbalki pemahaman terhadap pelaksanaan pekerjaannya sendiri dan juga membawa dampak pada lingkungan di sekitarnya.

Lebih jauh McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001). menjelaskan bahwa: Action Research dapat dilakukan oleh manager, direktur, dosen, guru, atau pekerja sosial lainnya. Action Research dapat mengandung unsur-unsur: (a) memperbaiki pekerjaannya sendiri, (b) kolaboratif dengan orang atau kelompok lainnya untuk memperbaiki pekerjaan mereka, (c) kolaboratif dengan instansi lain secara terpisah untuk memunculkan proyek atau mengembangkan sistem baru.

B. Ciri-Ciri Penelitian Tindakan

Suryabrata (1983) menjelaskan bahwa ada empat ciri penelitian tindakan yaitu (1) Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja. (2) menyediakan rangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru, yang lebih baih daripada cara pendekatan impresiomstik dan fragmentaris. Cara penelitian ini juga empiris dalam artian bahwa penelitian tersebut mendasarkan diri pada observasi aktual dan data mengenai tingkah laku, dan tidak berdasar pada pendapat subjektif yang didasarkan pada pengalaman masa lampau.(3) Fleksibel, adaptif, membolehkan perubahan-perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on-the spot experimentation serta inovasi.(4) Walaupun berusaha supaya sistematis, namun penelitian tindakan kurang tertib secara ilmiah, karena itu validitas internal dan eksternalnya lemah. Tujuannya bersifat situasional, sampelnya terbatas dan tidak representatif, dan kontrolnya terhadap ubahan bebas sangat kecil. Oleh karena itu, walaupun hasil-hasilnya berguna untuk dimensi praktis, namun tidak secara langsung memberi sumbangan kepada ilmunya.

Selanjtnya McTaggart, (dalam Hanurawan, 2001) menjelaskan bahwa: (1) Penelitian tindakan harus dilakukan secara sistematis. (2) Penelitian tindakan tidak hanya sekadar problem solving, tetapi juga dijiwai oleh keinginan untuk memperbaiki atau mencapal yang lebih baik, (3) Penelitian tindakan harus kolaboratif dan tidak dikerjakan oleh orang lain atau orang yang tidak terkait dengan pekerjaan yang diupayakan perbaikannya, (4) Penelitian tindakan bukan implementasi kebijakan, dan (5) Penelitian tindakan bukan semata-mata penerapan metodologi ilmiah, tetapi juga memperhatikan hal-hal lain, misal kolaboratif, partisipatori, dan adanya perubahan kondisi.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Penelitian tindakan itu mempunyai ciri-ciri: (1) praktis, (2) dimaksudkan untuk memperbaiki, (3) fleksibel, (4) vailditas internal dan eksternalnya rendah, (5) kooperatif, serta (6) terkait dengan pekerjaannya sendiri dan dilakukan “sendiri” (doing by himself).

C. Prosedur Penelitian Tindakan

Selain ciri-ciri seperti yang dijelaskan di atas, Kemmis dan McTaggart (1997) menjelaskan bahwa penelitian tindakan mempunyai prosedur penelitian yang khusus. Prosedur itu membentuk siklus seperti spiral yang terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Apabila perubahan belum seperti yang diharapkan, siklus itu diulangi lagi menjadi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

Sementara itu McKennan (dalam Sukamto 1996) menjelaskan bahwa penelitian tindakan dapat terdiri dari satu, dua atau tiga siklus yang masing-masing siklus terdiri dari: permasalahan, rumusan masalah, kajian kebutuhan, gagasan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi dan refleksi.

Senada dengan para ahli lainnya, Calhoun (1994) juga menjelaskan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian yang mempunyai siklus: (1) pemilihan area dan fokus penelitian, (2) mengumpulkan data, (3) mengorganisasi data, (4) menganalisis dan menginterpretasikan data, dan (5) melakukan tindakan. Menurut Calhoun, data yang dikumpulkan untuk dasar membuat keputusan tindakan itu dapat berasal dari data yang ada sekarang, hasil penelitian yang lalu, serta studi literatur. Sementara itu John Elliot (1991) menjelaskan bahwa kegiatan penelitian tindakan itu meliputi: (1) permasalahan (2) pengumpulan data (3) perencanaan (4) implementasi perencanaan atau tindakan, dan (5) evaluasi. Sedangkan Suryabrata (1983) menjelaskan bahwa ada tujuh langkah dalam

penelitian tindakan, yaitu: (1) merumuskan masalah (2) menelaah kepustakaan (3) merumuskan hipotesis tindakan (4) mengatur setting dan melakukan tindakan (5) menentukan kriteria evaluasi (6) menganalisis data dan mengevaluasi hasil, serta (7) menulis laporan.

Pada penelitian tindakan setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari informasi, yaitu mencari penyebab atau hal-hal yang menyebabkan timbulnya masalah. Informasi dapat diperoleh melalui pengamatan di lapangan maupun melalui kajian pustaka. Apabila penyebab timbulnya masalah sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah mengkaji teori dan atau penelitian yang relevan untuk menyusun hipotesis tindakan atau merencanakan tindakan. Dalam merencanakan tindakan, peneliti harus cermat karena selain harus menyiapkan segala sesuatunya yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan, peneliti juga harus menyiapkan instrumen yang diperlukan untuk mengumpulkan data.Apabila hipotesis tindakan sudah dirumuskan dan persiapan sudah selesai, langkah selanjutnya adalah pelaksanaan tindakan yang disertai dengan observasi. Ada dua hal pokok yang perlu diobservasi, yaitu pelaksanaan tindakan itu sendini dan dampak dari tindakan.

Langkah terakhir dalam satu siklus pada penelitian tindakan adalah refleksi. Pada langkah ini dengan kolaboratif tim peneliti mendiskusikan secara mendalam dan kritis mengenai hasil pengamatan yang menyertai tindakan sebelumnya. Masing-masing anggota tim mencoba melihat, mencermati atau mengkaji: Apakah tindakan yang telah dilakukan itu sudah membawa dampak atau belum? Apabila dirasa tindakan sudah membawa dampak positif atau membawa perbaikan. maka penelitian dihentikan. Hal ini berarti penelitian tindakan hanya memerlukan satu siklus atau mono-cycle. Namun apabila dirasakan tindakan itu belum membawa perbaikan seperti yang diharapkan, maka perlu dikaji lebih cermat untuk mencari penyebab “kegagalan” ini. Penyebab ini dapat dikarenakan pelaksanaan tindakan yang kurang sesuai dengan rencana dan dapat pula dikarenakan rencana tindakannya yang kurang tepat. Dalam refleksi ini dimungkinkan tim peneliti mencari jalan keluar yang lebih baik, mencari strategi baru yang lebih efektif, dan mengantisipasi faktor-faktor penghambat. Selanjutnya hasil refleksi ini digunakan untuk membuat rencana tindakan selanjutnya. Untuk keadaan seperti ini penelitian tindakan memerlukan dua siklus atau lebih, yang berarti multi-cycle. Tidak ada ketentuan tentang lamanya waktu yang diperlukan untuk setiap siklus dan jumlah siklus untuk setiap penelitian tindakan tetapi …………

Baca selengkapnya di buku  DESIGN ACTION RESEARCH Pengarang: Erna Febru Aries S., S.Pd., M.Pd., Penerbit: ADITYA MEDIA dapatkan segera bukunya dengan hub. Tlp: 081 803 802 797

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: