BUKU INFORMASIONAL MAMPU MEMENUHI KEBUTUHAN ANAK

Bagi Anda yang sedang menempuh kuliah Sastra Anak dan sedang menyelesaikan tugas akhir, mungkin artikel ini dapat membantu.

Oleh: Erna Febru Aries S

Masa anak-anak adalah masa ingin tahu tentang segala sesuatu. Minat anak terhadap hal-hal yang belum diketahuinya sangat tinggi, karena itu anak sering mengajukan pertanyaan tentang segala hal yang diamatinya. Kelebihan anak-anak adalah tidak pernah “kuwalahan” apabila diberi informasi sebanyak apapun. Sedangkan kekurangan orang dewasa adalah sering “kelabakan” dalam menjawab pertanyaan anak. Seorang anak juga ingin mengetahui apa saja yang dapat dijangkau pikirannya. Anak-anak bahkan ada yang suka mendengarkan orang dewasa yang sedang berbicara, kadang mereka juga mencoba ikut terlibat dalam pembicaraan orang dewasa. Selain butuh informasi anak juga butuh pengakuan, dan penghargaan. Berbagai keperluan tersebut, terutama keperluan akan informasi, harus diupayakan untuk dipenuhi agar pengetahuan dan wawasan anak semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan anak tersebut, maka sekarang banyak bermunculan buku-buku informasional yang memuat berbagai pengetahuan yang dibutuhkan anak.

Informasi merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia, baik anak maupun orang dewasa. Informasi dapat berupa apa saja dan bisa datang dari mana saja, salah satunya adalah buku. Buku berisi tentang berbagai hal, peristiwa, bermacam cerita, dan apa saja yang menghadirkan informasi sehingga dapat dikatakan orang tidak dapat hidup tanpa informasi. Berbagai buku bacaan yang berisi berbagai hal, peristiwa, atau apa saja yang menghadirkan fakta dikategorikan sebagai buku informasi. Buku informasi merupakan sebuah penamaan untuk subgenre sastra anak non fiksi. Bentuk buku informasional tidak harus seperti novel, biasanya lebih banyak berupa tulisan mirip cerpen anak. Buku informasional juga lazim ditulis dengan gaya narasi sehingga ketika anak membacanya hampir tidak ada bedanya dengan membaca cerita.

Buku-buku informasional diproduksi untuk memenuhi kebutuhan anak sehingga kehadiran buku informasional dapat menyampaikan pengetahuan semua hal yang ingin diketahui anak, tentang dunia, tentang ilmu pengetahuan, tentang segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di sekeliling anak. Sebagai wahana untuk mengetahui buku informasional lebih lanjut, makalah ini akan membahas seputar buku informasional yang meliputi; pengertian, ciri-ciri, macam-macam, dan manfaat kehadiran buku informasional untuk pembelajaran siswa di Sekolah Dasar.

Pengertian Buku Informasional

Berbagai buku bacaan yang berisi berbagai hal serta menghadirkan informasi dan fakta-fakta merupakan buku informasional. Buku informasi adalah jenis buku nonfiksi, dan bahkan tidak jarang disamakan begitu saja karena keduanya merupakan fakta faktual. Mitchell (2003: 326) mengatakan bahwa yang termasuk dalam kategori bacaan nonfiksi adalah cerita informasional, biografi, autobiografi, dan diari (catatan harian) Jadi, buku informasi dapat dipahami sebagai buku bacaan yang menyajikan berbagai hal yang berkaitan dengan fakta. Dengan membaca buku informasi berarti anak dapat memperoleh berbagai inforrnasi mengenai berbagai fakta yang dihadirkan dalam bacaan yang bersangkutan. Namun demikian, menurut Stewig (1980:480) lewat bacaan cerita fiksi anak juga akan memperoleh berbagai informasi, baik yang bersifat faktual maupun imajinatif karena fiksi juga tidak mungkin lepas sama sekali dari fakta faktual.

Bacaan informasional sengaja ditulis sehingga mampu memenuhi rasa keingintahuan anak yang luar biasa terhadap berbagai hal di sekeliling dan dalam kehidupannya. Melalui buku informasi, anak dibawa untuk masuk dan memahami berbagai fakta yang ada di dunia. Pemahaman anak terhadap berbagai sisi dunia diharapkan dapat menjadi semacam embrio agar anak tertarik untuk belajar memahami fakta secara lebih lanjut.

Rasa ingin tahu anak yang besar dapat dipandang sebagai akses terhadap anak untuk mau membaca, hal inilah yang merupakan tujuan utama penyediaan bacaan sastra anak. Sastra menurut Lukens (2003:9) menawarkan dua hal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman. Sastra hadir dihadapan pembaca untuk memberikan hiburan, mengajak pembaca untuk memanjakan fantasi, berimajinasi, membawa pembaca pada suatu alur kehidupan yang penuh daya suspense, daya yang menarik hati pembaca untuk ingin tahu dan merasa terikat karenanya “mempermainkan” emosi pembaca sehingga ikut larut dalam arus cerita, dan semua itu dikemas dalam bahasa yang menarik. Dapat dipahami bahwa buku informasional termasuk dalam sastra anak karena sedemikian dahsyat pengaruh sastra terhadap pembacanya. Dengan pengaruh itu anak dapat termotivasi untuk terus menerus menggali ilmu pengetahuan melalui buku-buku informasional.

Kehadiran buku informasional dirasa sangat membantu para pengajar dalam mentransfer pengetahuan dengan lebih mudah. Tentu saja buku informasional yang dimaksud di sini adalah buku yang dirancang sebagai buku bacaan anak. Maka, tuntutan yang mencerminkan karakteristik sastra anak haruslah menjadi acuhan utama. Hal itu dimaksudkan agar buku-buku informasional tetap menjadi bacaan yang menarik, komunikatif bagi anak, dan tidak berubah menjadi buku pelajaran. Tujuan memberikan materi pelajaran tentu saja ada, tetapi perlu dikemas dalam bacaan ringan yang sesuai dengan tingkat perkembangan pemahaman anak. Untuk buku informasi haruslah dipertimbangkan kelayakannya sebagai bahan bacaan anak. Karena itu selanjutnya akan dibahas ciri-ciri buku informasional. Ciri-ciri tersebut akan diurakan sebagai berikut.

Ciri-ciri Buku Informasional

Dalam rangka mempertimbangankan kelayakan sebagai buku informasional, Sutherland (1991:497-501) memberikan arahan akan kelayakan buku informasional tersebut meliputi; akurasi, ketepatan waktu, organisasi dan lingkup, tanggung jawab pengarang, kemampuan pengarang, format, dan stile, namum Lukens (2003:280-298) memberikan acuhan ciri-ciri buku informasional minimal harus mencakup aspek-aspek berikut! aspek stile, bentuk narasi, keakuratan dan cakupan fakta, format, ilustrasi, dan unsur didaktis.

  1. Stile

Penyusunan buku informasional haruslah mempertimbangkan kelayakan sebagai bahan bacaan anak. Aspek stile (bahasa) merupakan salah satu aspek terpenting yang perlu mendapat perhatian dalam mempertimbangkan kelayakan buku informasi sebagai bacaan anak. Sebagaimana lazimnya buku bacaan anak, secara umum bahasa dalam buku informasional haruslah memenuhi persyaratan sederhana baik kosa kata maupun strukturnya, lugu dan lugas dalam kaitannya dengan makna yang dimaksud, tidak berbelit, dan informatif. Stile berperan penting untuk menentukan apakah buku informasi itu menarik atau membosankan. Mudah atau sulit dipahami, penuturan secara konkret atau abstrak, dan lain-lain yang akan berdampak besar terhadap minat membaca anak selanjutnya.

Di bawah ini sebuah kutipan dari buku buku informasional “Ke Ruang Angkasa” buku ini cukup dapat menarik minat baca anak karena dari penuturan bahasa yang digunakan sangan mudah dipahami, dan ini berarti buku ini telah memenuhi persyaratan sebagai buku informasional dalam aspek stile.

Awan yang nampak di langit melayang pada lapisan udara di atas bumi. Lapisan udara ini disebut atsmosfer. Letak matahari amat jauh dari atsmosfir. Matahari ada di ruang angkasa. Di ruang angkasa tak ada cuaca dan tidak ada udara. Sudah ada orang yang mengetahui keadaan ruang angkasa. Kalian pun bisa pergi ke ruang angkasa. Bagaimanakah caranya kita bisa pergi ke ruang angkasa? …

(Pustaka dasar. Ke Ruang Angkasa, 1981:2)

Teknik penulisan buku informasional diharapkan menggunakan bahasa yang indah sehingga dengan membaca buku informasional anak tidak saja memperoleh berbagai informasi, tetapi juga memperoleh kenikmatan keindahan bahasanya. Dengan membaca buku informasional anak akan dapat memperoleh manfaat intelektual dan emosional sekaligus. Hal ini berarti bahwa tujuan memperoleh efek keindahan dalam hal stile mesti mendapat perhatian. Bahasa buku informasional harus diusahakan, disiasati, dan diupayakan sedemikian rupa dengan memanfaatkan daya kreativitas penulis sehingga mampu tampil sebagai bacaan informatif dan sekaligus bersifat literer. Melaui penyiasatan dan pendayaan bahasa, sesuatu yang abstak menjadi konkret dan jelas, sesuatu yang kompleks menjadi sederhana, sesuatu yang berat menjadi ringan dan sesuatu yang tidak memiliki daya tarik menjadi menarik.

2. Bentuk Narasi

Kemenarikan buku informasional dapat dilihat dari penyajian redaksional penceritaannya serta informasi fakta faktual yang ditulis. Dalam penceritaan buku informasional lebih bersifat naratif, beda halnya dengan cerita fiksi yang menekankan pentingnya suspense, bacaan nonfiksi lebih mementingkan penyampaian fakta. Hal yang penting kini adalah mempertimbangkan bagaimana fakta-fakta itu disampaikan tanpa mengurangi rasa ingin tahu anak. Rasa ingin tahu yang dimaksud bukan rasa ingin tahu terhadap kelanjutan cerita, melainkan terhadap fakta yang merupakan sesuatu yang bersifat informatif. Setiap orang termasuk anak, haus akan informasi dan sifat alamiah itulah yang diusahakan dipenuhi lewat bacaan non fiksi yang menghadirkan informasi yang menarik.

Dawah ini sebuah kutipan dari buku informasional dengan menyajikan bentuk narasi yang cukup baik. Buku ini berjudul “Belajar Tentang Warna”

Burung-burung itu menukik dan akan mendarat dengan empuk di dedaunan. Satu, dua, tiga, mereka mulai terbang merendah, tetapi rantingnya tidak cukup kuat untuk menyangga beratnya bandan mereka. Gedebuk, mereka jatuh ke tanah. “Duh gelap sekali di sini” kata burung Nuri. “memang di hutan banyak bagian yang gelap” Sahut Gagak . “Hai… lihat ada cahaya di sebelah sana, warnanya kuning keemasan”…..

(World Book International. “Belajar Tentang Warna”)

Kemenarikan bacaan cerita nonfiksi juga dapat dipenuhi lewat penyajian dan pengurutan fakta yang disampaikan. Fakta-fakta dalam bacaan nonfiksi disampaikan dengan cara cerita. Namun yang diutamakan bukan pengembangan alur, melainkan urutan penyajian fakta, misalnya dari yang sudah dikenal anak ke hal yang baru dan belum dikenal, dari yang sederhana ke arah yang sedikit lebih kompleks, dari yang dekat ke yang jauh, konkret ke abstrak, dan lain-lain. Penyajian fakta dengan cara cerita akan sanggup memberikan jaminan keterlibatan anak ke dalam cerita secara emosional. Anak tidak merasa digurui dan sebaliknya mereka merasa memperoleh sesuatu lewat cara yang menyenangkan. Hal itu dapat pula dipahami sebagai memberi fasilitas kemudahan pemahaman makna tanpa mengurangi rasa keindahan termasuk keindahan bahasa. Untuk itu, pendayaan dan penggunaan aspek naratif kiranya menjadi begitu penting.

    1. Keakuratan dan cakupan fakta.

Bacaan informasi yang baik, seharusnya memberikan informasi secara lengkap, menyeluruh, mampu membangkitkan konsep, dan bermakna. Sebagaimana yang dikemukakan Stewig (1980:486) buku informasional harus mampu memenuhi kecakupan fakta yang diperlukan tanpa harus mencari dan menambahnya lewat buku yang lain. Tujuan buku bacaan informasi adalah memberikan berbagai fakta kepada pembaca anak. Fakta yang dimaksud disini adalah dalam pengertian yang luas, baik la menyangkut keadaan, peristiwa, tokoh, logika, maupun yang lain-lain yang berasal dari sesuatu yang alamiah, eksak, atau berciri sosial dan budaya. Singkatnya, fakta adalah sesuatu yang bersifat faktual yang kebenarannya didukung bukti empirik dan logika, dan bukan sekadar imajinatif, karena itu, fakta-fakta tersebut haruslah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Keakuratan fakta yang diangkat ke dalam buku informasi merupakan hal yang penting, jika tidak dikatakan menentukan, terhadap kualitas buku informasi yang dihasilkan. Maka, evaluasi dan seleksi terhadap bacaan informasi, juga buku nonfiksi secara umum, pertama-tama haruslah mempertimbangkan aspek keakuratan fakta.

Buku yang berjudul Matahari, Bumi dan Bulan, dapat mewakili tersampaikannya keakuratan dan cakupan fakta.

Tahukah kalian, bumi berputar pada porosnya dari barat ke timur? Sambil berputar pada porosnya, bumi bergerak mengelilingi matahari. Hal ini yang mengakibatkan matahari seolah-olah terbit dari timur. Pernahkah kalian melihat matahari yang sedang terbit? Wow, indah sekali bukan? Kapan terjadi siang dan malam? Pada saat bumi berputar pada porosnya sambil mengelilingi matahari, ada bagian bumu yang menghadap matahari. Bagian bumi itu menjadi terang, maka dinamakan siang. Sebaliknya , ada bagian bumi yang tidak terkena cahaya matahari. Bagian bumi ini menjadi gelap, maka dinamakan malam. Dari bumi kita bisa menlihat bulan. Lhatlah, bulan itu bercahaya keemasan. Apakah bulan memiliki sumber cahaya? O, tidak. Bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari. Pantulah cahaya itulah yang kita lihat dari bumi.

(Bambang Ruwanto, Matahari, Bumi dan Bulan, 2006)

Penyampaian fakta yang tidak akurat akan menyesatkan anak, dan itu dapat berakibat salah konsep, salah pengertian, dan salah pemahaman yang merugikan. Berbagai fakta yang diangkat haruslah dievaluasi, dibandingkan dengan data-data yang berasal dari sumber lain dengan kerja triangulasi data. Hal ini penting dilakukan terutama oleh penilai dan atau pemilih buku bacaan anak. Pemberian bacaan informasi yang akurat dapat dipandang sebagai sikap yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan anak. selain masalah keakuratan, unsur keluasan cakupan fakta, detil-detil fakta atau kelengkapan fakta juga perlu mendapat perhatian. Semakin luas cakupan, lengkap, dan sampai detil tertentu buku informasi itu semakin baik. Bacaan itu sanggup memberikan informasi yang luas, lengkap, dan terinci sehingga memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan konkret.

    1. Format

Kemenarikan bacaan cerita nonfiksi juga dapat dipenuhi lewat penyajian bentuk penulisan. Seorang anak akan lebih berminat terhadap sebuah bacaan apabila tulisan yang disajikan dalam buku informasional tidak padat serta dalam font yang cukup besar. Bacaan informasional yang ditujukan terutama pada anak prasekolah dan siswa sekolah dasar kelas bawah memang sebaiknya dalam font yang besar, dalam satu halaman hanya terdapat beberapa baris kalimat-kalimat sederhana. Jika syarat terhadap kehadiran format dalam buku informasional telah terpenuhi diharapkan akan menumbuh dan membangkitkan minat anak terhadap buku informasional itu sendiri. Sehingga kemenarikan buku tersebut menjadikan anak semakin tertarik untuk membacanya.

Berikut kutipan dari buku informasional yang benar-benar memperhatikan kehadiran aspek format.

Apa yang terjadi dengan bulan itu? Bulan tampak gelap”

O… itu namanya gerhana bulan. Herhana bulan terjadi ketika bulan memasuki daerah bayang-bayang bumi. Pada saat itu bulan tampak gelap karena sinar matahari yang menuju bulan terhalang oleh bumi”.

(Bambang Ruwanto. Seri Mengenal Alam Matahari, Bumi dan Bulan ,. 2006:15)

    1. Ilustrasi

Bentuk ilustrasi biasa berupa gambar, lukisan, foto, atau sketsa. Ilustrasi dihadirkan agar menarik perhatian anak bahkan dapat mendorong minat anak untuk membaca teks verbal yang menyertainya. Adanya ilustrasi yang menyertai teks verbal dalam buku informasional adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Dalam bacaan anak, ilustrasi itu harus ada, dan justru hal inilah yang membedakan dengan bacaan dewasa. Ilustrasi harus berhubungan erat dengan teks verbal, saling mendukung dan menguatkan untuk menyampaikan makna dan atau informasi secara keseluruhan. Lukens (2003:289-290) menegaskam bahwa ilustrasi dalam teks nonfiksi harus memperjelas makna teks verbal. Ilustrasi harus mengkonkretkan dan membantu pemahaman informasi yang disampaikan lewat teks verbal.

Ilustrasi itu dapat berwujud gambar, lukisan, dan foto. Ilustrasi dan atau gambar-gambar tersebut haruslah dibuat supaya menarik perhatian anak. Berikut sebuah ilustrasi yang cukup mendukung teks yang menyertainnya.

Berbagai jenis wujud ilustrasi yang lazim dipergunakan dalam buku informasi memiliki kekuatan tersendiri. Ilustrasi yang berwujud gambar memiliki keleluasaan untuk menampung kreativitas ilustrator dalam memanifestasikan ide-idenya. Gambar dapat dibentuk dan dikreasikan sesuai dengan keinginan pembuatnya dalam menafsirkan keterkaitan antara teks verbal dan gambar ilustrasi yang berfungsi mengkonkretkan dan memperjelas. Dilihat dari berbagai sudut ilustrasi gambar memang lebih luwes, namun dengan catatan ilustratornya haruslah terampil dan kreatif. Ilustrasi yang berwujud foto, dapat menampilkan obyek dan fakta sesuai dengan aslinya, dan dapat dipandang sebagai daya tarik tersendiri. Namun, tidak semua objek dan konsep dapat dibuat fotonya. Selain itu, menurut Lukens (2003:290), gambar­-gambar foto sering terlihat terlalu menyederhanakan fakta, karena hanya mampu menangkap wujud luarnya saja terhadap fakta dan atau konsep yang disajikan. Selain itu, konsep­ abstrak dan adegan peristiwa-peristiwa tertentu, apalagi yang telah menjadi masa lalu, yang memerlukan “aktor” juga tidak mudah diperoleh. Untuk kasus seperti itu, gambar-gambar ilustrasi lebih mudah dibuat dari pada foto-foto.

6. Unsur Didaktis

Dalam menyusun buku informasional yang tidak boleh dilupakan adalah adanya unsur mendidik. Bagaimana pun bentuk penyajian dalam buku informasional aspek pelajaran atau membawa pesan ilmu wajib ada di dalamnya karena melalui buku informasional anak dapat memperoleh berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupannya terutaman sebagai bahan penunjang pembelajaran di sekolah.

Satu kutipan di bawah ini yang menonjolkan aspek didaktis dalam menunjang pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, sub pokok bahasan tentang “tokoh” kutipan ini diambil dari buku informasional yang berjudul “Seri Penemuan. Penemu Lampu.”

Pemandangan saat malam di kota besar, lampu-lampu memancar terang bagaikan bintang di langit. Suasana jalanan, dan di rumah kita seterang siang hari. Kira-kira kapan dan siapa yang menemukan bola lampu? Peristiwanya terjadi sekitar 122 tahun yang lalu. Di suatu tempat bernama Menlo Park di amerika Serikat. Penemu bola lampu bernama Thomas Alva Edison.

(Yumiko Tuniko. Seri Penemuan. Penemu Lampu. 2002)

Macam-macam Buku Informasional

Berbagai macam buku informasional dapat kita temukan. Buku informasional membentang dari berbagai fakta kehidupan, seperti kehidupan sosial, tentang binatang, teknologi, olahraga, seni, budaya, sains, matematika, dan lain-lain. Tomlinson (2002) memberikan arahan secara umum buku informasional meliputi lima jenis, yaitu ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu sosial, ilmu terapan, dan ilmu kemanusiaan. Selanjutnya buku informasional yang banyak ditemukan meliputi buku-buku informasional sebagai berikut

1. Binatang.

Buku informasi tentang binatang bukan merupakan cerita binatang atau yang lazim disebut fabel, baik yang tergolong klasik maupun modern, melainkan buku yang membicarakan binatang sebagai salah satu objek faktual dan apa adanya. Misalnya, jika sebuah buku informasi tentang binatang berkisah tentang binatang gajah, yang diceritakan adalah antara lain deskripsi fisik binatang itu: badannya besar, berkaki empat, ada belalai dan gadingnya, telinganya kasar, cara makan dan minum, makanannya dan seterusnya.

Berikut kutipan yang dapat memperjelas informasi tentang binatang dalam buku informasional. Di dalam buku ini gaya penyajian bahasanya dikemas dengan melibatkan emosi anak karena menggunakan penuturan bergaya persona “kamu”. Buku ini berjudul “Binatang Tanpa Tulang Belakang “ buku ini cukup memenuhi persyarakan sebagai bahan bacaan anak.

Pernahkah kamu melihat ubur-ubur? Ubur-ubur adalah binatang yang biasa hidup di laut. Kamu di rumah pasti punya payung. Nah… seperti itulah ubur-ubur, mirip payung dengan lengan berumbai halus. Rumbai-rumbai ini disebut tentakel….

(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Calon IImuwan: Binatang Tanpa Tulang Belakang. Hal:10)

2. Olahraga

Buku informasi olahraga adalah karangan yang berkaitan dengan suatu jenis olahraga. Buku informasi tentang olahraga sepakbola misalnya, dapat bercerita tentang jumlah pemain, posisi-posisi pemain tugas pemain dalam tiap posisi, aturan permainan, tugas wasit, ukuran lapangan, dan lain-lain. Buku informasional olahraga dapat berupa tulisan mengenai “apa dan Bagaimana” suatu jenis olahraga, aturannya, sejarahnya, atau peristiwa yang berhubungan dengan olahraga.

Sebuah cuplikan tentang olahraga bulu tangkis

Pada abad 19 tentara Inggris menduduki India, saat di India itulah tentara Inggris mengamati penduduk yang bermain tangkis menangkis bulu burung. Akhirnya tentara Inggris mempelajari permainan ini dengan serius. Ketika mereka kembali ke Inggris, permainan ini pun disebarkan di Inggris. Seiring dengan berjalannya waktu permainan ini diberi nama bulu tangkis yang kemudian berkembang dengan aturan-aturan permainan yang dipakai sampai sekarang. Berhubung di Inggris permainan ini diresmikan di daerah Badminton, maka semua orang di dunia mengenal bulu tangkis dengan istilah badminton….

(Sri Haryati. Olahraga. Bulutangkis.2005)

  1. Sains dan lingkungan hidup.

Buku informasi untuk bacaan sastra anak juga banyak mengangkat masalah sains dan lingkungan hidup. Sesuai dengan topiknya yang sains dan lingkungan hidup, buku informasi jenis ini menyajikan berbagai yang dapat dikategorikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun demikian karena termasuk bacaan sastra, ilmu pengetahuanyang dimaksud dikemas dalam stile yang enak dibaca, dan dilengkapi dengan ilustrasi yang mendukung dengan tampilan yang bagus. Sekali lagi, derajat keartistikan dalam bacaan ini mendapat perhatian yang serius dengan demikian, membaca berbagai informasi mengenai ilmu pengetahuan yang disajikan anak tidak merasakannya sebagai belajar, melainkan lebih sebagai menikmati bacaan dan secara tidak langsung memperoleh pengetahuan. Dengan kondisi bacaan yang demikian diharapkan anak akan tertarik dan kemudian suka membacanya.Birukut kutipan dari buku informasional yang dapat memperkaya anak terhadap pengetahuan sains. Buku ini bercerita tentang Atmosfer.

Wow… keren! Dimana kita sekarang?” Tanya Sulton pada Spaera.”Kita sedang dalam perjalanan ke negeriku, yaitu negeri atmos. Negeri atmos berada di Atmosfer. Tahukah kamu Atmosfer?

ya…aku tahu, atmosfer itu lapisan gas yang menyelimuti bumi”

wah pintar sekali kau. Nah … negeri atmos berada di sana jika atmosfer hancur maka bumi juga hancur….

(Rani Y. Iskandar. Sains. Tahu Banyak Tahu. 2004)

  1. Kehidupan sosial.

Kehidupan sosial masyarakat di lingkungan anak juga sering dijadikan informasi untuk anak. Sama halnya dengan jenis buku informasi yang lain, tujuan mengangkat kehidupan sosial masyarakat adalah untuk memberi tahu anak tentang berbagai hal yang berkaitan dengan masalah tersebut sehingga anak sebagai salah satu bagian yang terlibat di dalamnya memahami pranata, konveksi, nilai-nilai atau hal-hal lain yang ada di masyarakat yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat. Sama halnya dengan jenis-jenis buku informasi yang lainnya, lewat bacaan ini pada hakikatnya anak diberi “pelajaran” tentang kehidupan sosial yang bermanfaat namun dengan cara-cara yang menyenangkan.

Satu kutipan di bawah ini yang mengangkat tentang kehidupan sosial dalam bermasyarakat, meskipun tokoh ceritanya adalah binatang namun pesan yang disampaikan lewat cerita akan dapat dipahami oleh anak dengan mudah bahwa dalam kehidupan manusia tidak sendirian. Manusia butuh manusia lain, untuk saling membantu. Pesan moral yang disampaikan patut diteladani oleh setiap anak. Cerita ini diambil dari buku informasional yang berjudul “Pengantar Tidur anak Muslim. Semut dan Burung Dara.”

Seekor semut terpeleset ke sungai, ia tidak berdaya karena tidak bisa berenang. Tapi untunglah ada burung dara berwarna putih yang menyaksikan apa yang dialami semut. Burung dara itu pun tergugah hatinya untuk menolong semut. Paruhnya mengapit sebatang dahan kering kemudian ia membentangkan dahan itu antara air dan daratan. Semut pun meraih dahan itu dan berhasil keluar dari air sungai. Semut dapat selamat karena jasa burung dara. Begitulah kehidupan, haruslah selalu tolong menolong

(Tasirun sulaiman. Pengantar Tidur anak Muslim. Semut dan Burung Dara, 2005: 31)

Manfaat Buku Informasional

Sebagaimana buku-buku sastra anak dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Kiranya buku informasional juga bermanfaat. Kontribusi yang paliing menonjol dalam sastra anak jenis yang lain adalah bagaimana guru dapat mengembangkan teknik apresiasinya. Sedangkan buku informasional digunakan sebagai bahan pengayaan materi pelajaran. Selebihnya buku informasional dapat nenambah wawasan pengetahuan siswa bahwa di dalamnya ada informasi yang tersaji dalam bentuk lain yang awalnya sulit dimengerti akan mudah dipahami siswa. Di samping manfaat yang telah diuraikan, diharapkan penggunaan buku informasional dapat membawa dapat positif pada siswa terutama dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dan pengajaran sastra anak lintas kurikulum. Sedangkan dampak positif setelah anak banyak membaca buku informasional, diharapkan anak dapat:

  1. menyadari pentingnya sastra sebagai refleksi/ cerminan pengalaman hidup manusia yang mencerminkan motif, konflik, dan nilai-nilai manusia

  2. mengidentifikasi diri dengan karakter fiktif dan nonfiktif dalam cerita sebagai sarana berhubungan dengan yang lain (mendapatkan pemahaman dari keterlibatannya dengan karya sastra)

  3. mengetahui penulis-penulis penting yang mempresentasikan latar belakang dan tradisi berbeda dalam sastra.

  4. mengembangkan empat aspek keterampilan berbahasa dengan media beragam karya sastra.

  5. meningkatkan motivasi siswa untuk mencintai dan suka membaca cerita.

  6. memupuk dan mengembangkan sejak dini semangat bersastra pada diri siswa.

  7. mengubah presepsi siswa bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan apa pun akan mudah dimengerti dengan banyak membaca cerita.

  8. memberikan informasi bahwa di dalam buku ada hal-hal yang belum diketahui siswa

  9. mengajak siswa untuk gemar mencari pengetahuan dengan banyak membaca.

  10. memberi motivasi agar siswa dapat mencintai semua pelajaran yang diberikan di sekolah.

  11. memberikan pengalaman belajar pada siswa bahwa sesungguhnya belajar itu adalah hal yang santai tapi serius.

  12. membuat siswa tetap enjoy untuk pergi ke sekolah.

  13. memberi model bahwa belajar itu sesuatu hal yang menyenangkan.

  14. memberikan pengertian pada siswa untuk menghormati, menyayangi, merawat, dan berusaha memiliki sebanyak-banyaknya buku dalam jenis dan bentuk apa saja.

Penutup

Kehadiran buku informasional dihadapan anak, terutama siswa sekolah dasar diharapkan mampu memenuhi salah satu hak anak. Pemenuhan hak-hak anak adalah tugas orang dewasa dan hal ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap anak. Pemenuhan kebutuhan anak akan informasi dapat dilakukan dan diberikan lewat buku informasional. Pada hakikatnya orang senang dan butuh informasi, terlebih anak yang memang sedang berada dalam masa peka untuk memperoleh, memupuk, dan mengembangkan berbagai aspek kehidupan. Melalui buku informasional seorang anak bahkan orang dewasa dapat memperoleh, mempelajari, dan ,menyikapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan, manusia dan kemanusiaan. Buku informasional menawarkan dan mendialogkan kehidupan dengan cara-cara yang menarik dan konkrit. Lewat berbagai buku informasional anak memperoleh berbagai informasi yang diperlukan dalam kehidupan. Berbagai informasi yang dimaksud dapat diperoleh dan diberikan melalui buku informasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: