Bahasa dan Bahan Bacaan Merupakan Sebuah Pembelajaran Terpadu

Pada pembahasan bab ini akan dipaparkan tentang prinsip-prinsip bahasa secara keseluruhan, menyatukan seni dalam berbahasa, Hubungan antara membaca dan menulis, serta bahan bacaan sebagai sarana penyatuan bahasa. Secara berurutan akan dibahas satu persatu.

Prinsip bahasa secara keseluruhan

Berikut ini adalah beberapa prinsip penerapan bahasa sebagai suatu keseluruhan:

Pembelajaran itu merupakan proses yang terintegrasi/utuh.

Siswa bisa belajar secara efektif jika mereka diperkenankan melihat hubungan antara ide dan mata pelajaran yang sedang mereka pelajari secara utuh dan tak terpisah-pisah/terintegrasi.

Tugas dalam pembelajaran bahasa bersifat otentik/asli.

Otentik dalam hal ini maksudnya tugas-tugas yang diberikan dalam pengajaran bahasa ini adalah tugas tugas yang bersifat nyata yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat siswa mengerti betapa pentingnya melakukan tugas ini maka ia akan melakukan tugas yang ada dengan sungguh sungguh.

Proses belajar adalah sebuah proses sosial.

Tujuan dari pengajaran bahasa adalah mempelajari bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain. Oleh sebab itu siswa belajar cara berkomunikasi dengan orang lain, berbagi ide, bekerja secara kelompok dan menjadi bagian dari masyarakat pembelajaran yang ia ada sekarang.

Pembelajaran bahasa di kelas bersifat menyeluruh dan berpusat pada pembelajar.

Hal ini sesuai dengan komitmen kita akan pembelajaran bahasa yang bahwasannya siswa harus terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan dengan adanya tanggung jawab itu dianggap sebagai pilihan, sehingga akan memunculkan proses negosiasi akan keputusan yang akan dibuat misalnya dalam hal hal yang ada hubungannya dengan prosedur pembuatan kurikulum, dan evaluasi diri.

Bahan bacaan adalah bagian integral dari kurikulum pengajaran bahasa.

Maksudnya bahwa sejak dahulu kita sudah sangat mengakui jika anak kita banyak belajar bahasa dari proses membaca dan bahan bacaan atau sumber bacaan (referensi) merupakan bagian yang merupakan keharusan dari proses pengajaran bahasa ini karena pengajaran bahasa harus selalu ditunjang dengan sumber bacan yang banyak dan memadai.Buku-buku yang bermutu bisa kita gunakan dalam lintas kurikulum sebagai bahan informasi dan hiburan.

Pengintegrasian dalam keterampilan berbahasa

Penyatuan berbagai macam keterampilan berbahasa seperti keterampilan membaca, menulis, berbicara dan mendengarkan dalam sebuah pengajaran bahasa di kelas bukan lagi ide yang baru pengintegrasian ini dirancang oleh para penyusun kurikulum dari waktu ke waktu dalam beberapa puluh abad (Jensen dan Roser, dalam Burns, dkk 1996). Dalam kenyataannya di kelas bahasa selama ini, praktik pengajaran yang membedakan beberapa bagian untuk pengajaran pengucapan, menulis, membaca secara berkelompok dan tata bahasa telah dinilai gagal. Hal ini dianggap gagal karena dengan system pengajaran yang demikian anak anak kita latih untuk sama sekali tak menggunakan bahasa dalam situasi yang alami seolah olah mereka sedang bercakap cakap secara biasa. Maka dari itu pengajaran bahasa diharapkan dapat diajarkan secara alami tanpa terikat dalam waktu tertentu.

Hubungan antara membaca dan menulis.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak pakar pendidikan yang menganggap bahwa proses membaca dan menulis sebagai proses mengarang. Berdasarkan pengetahuan, sikap, sudut pandang, dan pengalaman siswa terdahulu, seorang pembaca mengkonstruksikan makna yang ada dan menggali makna yang ada dalam teks sehingga ia bisa mengarang teks yang berarti.Baik membaca maupun menulis selama ini sama sama melibatkan proses keterampilan berpikir yang hampir sama seperti menganalisa, menyeleksi , mengorganisasikan, membuat inferens (kesimpulan), evaluasi, pemecahan masalah, dan membuat perbandingan. Tierney dan shanahan dalam Burns, dkk 1996 mengatakan bahwa ”membaca dan menulis” bisa dipahami secara penuh dan harus dilihat secara bersama sama, dipelajari bersama-sama, dan digunakan secara bersama-sama.

Keterampilan membaca dan menulis saling menguatkan satu sama lain. Menurut smith (dalam Burns, dkk 1996), anak-anak belajar bagaimana cara membaca seperti layaknya seorang “penulis” sehingga ia bisa menulis layaknya seorang penulis. Dengan mengamati cara penulis berdialog saat membaca cerita dan anak akan belajar bagaimana menciptakan dialog saat menuliskan sebuah cerita.

Berikut disajikan bagan hubungan antara membaca dan menulis.

Membaca

Menulis

Menghubungkan topik yang ada dengan pengetahuan terdahulu

Menghubungkan topik yang ada dengan pengetahuan terdahulu

Membentuk makna yang lain Membentuk makna sendiri

Memperkirakan apa yang akan terjadi kemudian

Memperkirakan apa yang seharusnya terjadi kemudian

Mempunyai pengharapan atas teks yang berdsarkan pengalaman

Mempunyai pengharapan atas bagaimana bacaan tersebut akan dikembangkan

Merubah pemahaman atas bacaan sejalan dengan proses membaca

Mengembangkan dan merubah makna pada saat menulis

Terlibat dalam proses membaca seperti-skimming, dan menggunakan logika

Terlibat dalam proses menuli seperti-mencari ide dan membuat catatan.

Membaca kembali untuk proses klarifikasi

Menulis kembali untuk proses klarifikasi

Menggunakan petunjuk yang ada agar yang dibaca bisa masuk akal

Menggunakan aturan aturan dalam menulis untuk membantu pembaca

Merespon/ tanggapan dengan berbicara, melakukan, dan atau membaca

Mendapatkan respon/tanggapan dari pembaca

Berikut beberapa aktivitas di kelas yang berupaya menggabungkan aktivitas kegiatan membaca dan menulis.

  1. Tugaskan siswa untuk mencari topik bacaan dari koran, berupa cerita, intisari atau puisi.

  2. Mintalah dan doronglah siswa untuk menulis naskah yang digunakan dalam radio dan TV berdasarkan cerita yang telah mereka buat.

  3. Setelah mereka menulis maka mintalah siswa untuk saling bertukar pekerjaan dan saling mengoreksi tulisan temannya.

  4. Mintalah siswa untuk menulis surat pada sahabat penanya di kota lain.

  5. Buatlah konferensi para “penulis muda” diantara anak anak di kelas dan bahaslah karya karya apa saja yang sudah mereka terbitkan.

  6. Saat anak anak sudah sangat terlibat dalam tema yang bicarakan maka mintalah mereka untuk menulis informasi apa yang mereka dapat.

Pendekatan dalam proses menulis

Pendekatan menulis ini berfokus pada siswa dimana anak-anak kita biarkan untuk menciptakan tulisan mereka sendiri berdsarkan topic yang mereka miliki, kesadaran mereka akan siapa saja yang membaca karya mereka, dan pengetahuan mereka tentang bagaimana cara membangun ide dari tahap awal hingga terakhir menjadi karya yang jadi. Proses ini akan terus berlangsung secara berkelanjutan dari tema-tema yang bisa kita temui dalam keseharian kita sampai pada tahapan yang bervariasi.

Ada dua macam konsep yang sangat penting dalam menulis ini. Yang pertama adalah adanya konsep kepemilikan (ownership). Rasa kepemilikan yang dimaksudkan adalah adanya rasa tanggung jawab penuh atas hasil tulisan yang mana penulis akan bertanggung jawab penuh atas topic yang dipilih sekaligus upaya revisi/perbaikan atas hasil tulisan hingga sampai pada hasil akhir. Yang kedua, adalah terciptanya masyarakat penulis (komunitas penulis) yang dalam hal ini yang kita maksudkan adalah semacam masyarakat penulis yang beranggotakan para penulis (siswa) dan antara siswa dan guru yang mana aktivitas yang dibahas dalam komunitas ini adalah segala macam permasahan tentang topic, ide, dan segala usaha dalam rangka menciptakan semacam tulisan yang memuaskan (Kirby, latta, dan Vinz, 1988; Lamme, 1989).

Proses menulis yang melibatkan kelompok kelas yang beranekaragam (berbagai tingkatan kelas) akan mendorong adanya usaha dari siswa yang lebih tua (lebih tinggi tingkatan/kelasnya) untuk mengarahkan siswa yang dibawahnya (jauh lebih muda). Mereka akan bisa melakukan peran silang yaitu anak-anak yang lebih muda akan memainkan peranan sebagai anak anak yang sudah tua (sebagai pembaca dewasa) dan sebaliknya anak anak yang sudah dewasa bisa memainkan peranannya sebagai penulis muda.

Tahapan-tahapan dalam proses menulis

Proses menulis akan meliputi beberapa tahapan berikut ini: tahapan pra-menulis, membuat draf/kerangka karangan, merevisi, mengedit, dan menerbitkan dan berbagi tulisan. Tahapan-tahapan ini bisa digunakan dalam tingkatan apapun meskipun diakui bahwa anak kelas satu akan cenderung mempunyai tulisan yang sederhana dan lebih memerlukan panduan dari gurunya dalam menulis.

  1. Tahapan pra-menulis

Penulis mempersiapkan apa yang ingin ia tulis dengan cara berbicara, menggambar, membaca, dan berpikir tentang tulisan yang akan ia buat dan dengan cara mengorganisasikan ide serta membangun beberapa rencana ide.

  1. Membuat draf/kerangka karangan

Penulis memikirkan ide serta menuangkannya dalam sebuah kertas tanpa memperdulikan masalah kerapian dan mekanika tulisan (tanpa menghiraukan tanda baca).

  1. Merevisi (memperbaiki)

Setelah mendapatkan saran-saran dari orang lain (teman dan guru), penulis mungkin akan berniat untuk membuat beberapa perubahan atas tulisan awal yang ia buat. Perubahan ini bisa berupa menambahkan dialog, menghapus beberapa bagian yang diulang-ulang, menambah dalamnya keterlibatan masing masing karakter/tokoh, memperjelas makna, menyediakan informasi tambahan, dan merubah akhir ceritanya.

  1. Mengedit (memeriksa ulang)

Dengan proses membaca yang hati-hati dan dengan bantuan para teman dan guru, maka penulis berusaha membenarkan pengejaan and mekanika penulisan (tanda baca) yang salah.

  1. Berbagi dan menerbitkan (menyajikan)

Setelah melalui proses revisi yang hati-hati, penulis akan berbagi apa yang ia tulis dan menyajikannya pada khalayak (teman-temannya dan guru). Halaman-halaman yang ada dalam buku tersebut bisa distapler, diikat atau disatukan dengan berbagi macam cara atau juga bisa dijilid dengan bagus. Buku yang sudah diselesaikan dapat terus disimpan dalam kelas, atau disimpan dalam perpustakaan sekolah.

Membaca dan menulis dalam jurnal

Siswa menulis sebuah jurnal untuk mengemukakan ide dan pikiran apa yang ia pikirkan. Dalam hal ini para penulis juga bertanggung jawab atas isi dari apa yang ia tulis tanpa harus bertanggung jawab atas hal hal yang berhubungan dengan mekanika tulisan. Dalam hal ini seorang penulis juga berhak menentukan apa siapa yang ia tuju dalam tulisannya itu maka dari itu tak heran jika ada jurnal tertentu yang hanya untuk dikonsumsi secara pribadi dan kadang juga dibagi.

Bentuk jurnal ini bisa berupa kertas yang kelompokkan spiral, buku catatan, atau kertas sederhana yang distapler dan dihiasi sendiri oleh siswa. Dan jurnal ini bisa ditulis oleh anak berbagai macam umur yang mana dalam jurnal ini gambar dan pewarnaan bisa juga ditambahkan.

Dialog dalam jurnal bisaanya bersifat interaktif yang mana hal ini diartikan sebagai siswa atau gurulah yang cenderung aktif dalam proses ini yang mana peranan siswa dan guru ini bisa saling bergantian. Dalam hal ini orang yang disuruh membaca bisaanya akan mengomantari tentang pengejaan, mekanika dalam tulisan, meminta klarifikasi atas tulisan yang ia baca, atau meminta agar penulis mengembangan ide yang sama sekali tak ia mengerti.

Menulis dan membaca dalam kegiatan workshop

Menulis dan membaca dalam kegiatan workshop akan memberikan kesempatan pada guru untuk mengajarkan strategi penulisan dengan cara langsung dalam sebuah pelajarn singkat dan mini (diikuti sedikit peserta) dan kegaiatan yang dilakukan dalam workshop ini tak lain adalah membaca dan menulis. Proses menulis dalam sebuah workshop meliputi empat tahapan: pelajaran mini, laporan yang dilaporkan di kelas, menulis dalam workshop yang sesungguhnya, dan waktu berbagi/diskusi (Atwell, 1987). Pelajaran mini ini akan berlangsung sekitar beberapa menit dan berhubungan dengan isu yang berkaitan dengan prosedur menulis, bagaimana cara menulis secara realistic, bagaimana cara menggunakan tanda baca dengan benar, bagaimana cara memulai tulisan yang baik atau hal yang lainnya. Dalam hal ini pentingnya kegiatan “-check class” adalah dengan cara guru memanggil masing masing nama siswa dan mengingat ingat kembali apa yang siswa ini lakukan pada saat workshop. Sebagian besar waktu dalam workshop akan digunakan untuk kegiatan “sharing” (diskusi), menemukan ide, dan menanggapi tulisan orang lain.

Meskipun format yang ada dalam kegiatan workshop berbeda beda namun pada dasarnya kegiatan ini dimulai dengan serangkaian kegiatan mini misalnya tentang jenis tulisan yang akan dibuat oleh penulis lalu guru akan memilih topic mana saja yang layak lalu membiarkan siswanya untuk berkonsentrasi pada tulisannya dan apa yang dibacanya. Sebelum workshop berakhir pada sepuluh atau lima menit terakhir bisaanya akan ada kegiatan berbagai kegiatan, buku atau proyek kerja dengan siswa yang lainnya (Atwell, 1985, 1987;eutzel dan Cooter, 1991).

Dalam berbagai sekolah misalnya, ada anak anak yang sangat beruntung karena sekolah tempat ia belajar dilengkapi dengan fasilitas computer atau laboratorium computer. Program “word processing (pemrosesan kata)” dalam computer akan bisa memudahkan siswa untuk meneliti draf kasar tulisan mereka secara lebih cepat, bisa sering direvisi, dan dicetak sebagai hasil akhir. Pekerjaan menulis dalam komouer akan jauh lebih mudah karena computer dilengkapi dengan alat alat yang dapat membantu siswa dalam meneliti makanika tanda baca secara mudah sekaligus tata bahasanya karena computer dilengkapi dengan system ini.

Anak anak juga bisa menggunakan computer untuk meneliti seberapa jauh pemehamannya tentang bagaimana cara penulis berpikir dan dapat ikut pula merasakan kesadaran atas “gaya tulisan penulis. Dengan computer maka anak anak akan diberikan kesempatan untuk mengenal fontasi, ukuran cetak, latar belakang.

Berikut ini adalah beberapa keefektifan “word processor” berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Balajthy (1989):

  1. Penggunaan “word processor” akan membantu siswa dalam menulis dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan saat mereka harus menulis dalam tulisan tangan dengan menggunakan pena dan kertas.

  2. Saat siswa menggunakan “word processor” amaka mereka akan bisa merevisi jauh lebih banyak dibandingkan saat mereka harus menulis dalam tulisan tangan dengan menggunakan pena dan kertas.

  3. Karena kapasitas monitor yang terbatas maka guru akan menyarankan siswanya untuk menggunakan hasil cetak bila ingin merevisi daripada mengerjakannya secara langsung di komputer.

  4. Saat siswa menggunakan “word processor” amaka mereka akan bisa mengedit jauh lebih banyak dibandingkan saat mereka harus menulis dalam tulisan tangan dengan menggunakan pena dan kertas.

  5. Word Processing “ tak banyak membantu dalam tulisan siswa hanya saja word processing ini akan bisa membantu siswa dalam hal pemberian perintah, pemberian masukan dll.

  6. penggunaan word processor ini sangat popular karena bisa memberikan siswa kesempatan untuk menulis dan merevisi dengan jauh lebih mudah. Selain itu tahu akan computer akan sangat memudahkan siswa dalam pengembangan karirnya di masa yang akan datang.

Buku sumber/bahan bacaan sebagai sarana dalam penyatuan bahasa

Anak anak yang beruntung yang lahir dalam keluarga yang melek huruf akan mengalami berbagi macam pengalaman membaca pada saat mereka kecil misalnya mengalami apa yang dinamakan dengan kegiatan “nina bobo” yang mana orang tua kita membacakan sebuah cerita pda kita dikala kita mau tidur. Kegiatan membaca buku cerita dalam keluarga ternyata menguntungkan dalam pembelajaran bahasa itu dan membangun keterampilan kesusastraan seorang anak serta mengembangkan nilai-nilai menjadi lebih bermakna sehingga akan membangun dasar opengetahuan yang ada, juga akan membantu anak anak kita mengetahui konstruksi sebuah cerita dan memberi kita kesempatan untuk berpikir tentang bagaimana mendiskusikan cerita (taylor dan Striuckland, 1986). Saat anak anak mulai masuk sekolah maka ia akan semakin akrab dengan berbagai macam buku yang ia dapatkan melalui pelajaran membaca, memndengarkan, diskusi, membaca, dan buku-buku inilah yang akhirnya menjadi jembatan penghubung antara rumah dan sekolah. Bagi mereka yang kurang beruntung, kelas dan sekolah merupakan sarana bagi mereka untuk menggali ilmu yang sebanyak banyaknya mengenai buku dan sesuatu yang ada di dalamnya. Untuk anak anak yang berasal dari berbagai latar belakang maka buku atau sumber buku (literature) memberi kesmpatan pada anak akan dasar membaca dan menulis untuk membangun sikap yang positif terhadap pengajaran bahasa secara lebih menyeluruh.

Menciptakan Suasana pembelajaran membaca yang menyenangkan

Respon yang “hidup” dan menyenangkan akan sumber bacaan yang ada bisaanya akan ditunjukkan siswa dalam suasana pembelajaran di kelas yang menyenangkan (Hickman, 1984 halaman 381). Kondisi pembelajaran yang demikian bisaanya ditandai oleh beberapa cirri-ciri berikut: adanya jumlah buku dalam jumlah yang besar baik dalam ruang kelas maupun dalam perpustakaan sekolah; adanya waktu yang cukup untuk memilih bahan bacaan; pengenalan akan buku- buku baru, aktivitas membaca nyaring; diskusi buku di kelas dalam kelompok kecil dan antar individu’ penggunaan istilah-istilah sastra serta penggunaan berbagai macam istilah yang bervariasi dan kreatif dalam pengajaran kesusastraannya.

Keadaan kelasnya sangat mendukung dan anak anak seakan memiliki rasa kepemilikan atas bacaan yang sedang mereka baca karena mereka sendirilah yang memilih bacaan yang ada dan memilih tema apa saja yang mereka sukai dan mereka sendirilah yang akan menentukan bagaimana cara membacanby dan bagaimana cara menyajikannya setelah ia baca.

Anak anak memiliki tujuan dan berbagai macam kesempatan intuk membaca dan menulis sepanjang hari dan dalam lintas kurikulum yang berbeda. Setiap hari si guru menyajikan mereka dengan berbagai macam sumber bacaan yang baik bagi mereka. Guru mengadakan aktivitas yang berpusat pada kegiatan membaca sehingga nantinya sang anak akan memberikan respon atau tanggapan berkenaan dengan hal hal apa saja yang ia tulis.

Membaca Cerita dan Bercerita

Membcakan cerita pada ank anak memberikan berbagai macam manfaat. Memmbacakan cerita pada anak anak akan memberikan anak anak segudang pengetahuan tentang berbagai amacam cerita yang tak pernah sempat mereka baca. Selain itu membacakan cerita pada anak anak akan memberikan kesempatan pada anak anak kita untuk mengenal berbagai macam penggunaan bahasa, warna bahasa yang kreatif dalam puisi dan prosa, menyajikan mereka dengan berbagai macam kosakata dan konsep baru yang mungkin belum pernah mereka temui serta memperkenalkan anak anak pada berbagi macam pola variasi bahasa yang ditemukan dalam komunikasi tulisan.

Sesaat sebelum memulai pelajaran misalnya sang guru bisa meminta anak anak mendengarkan bagaimana penulis menggunakan kalimat utama dn bagaimana cara dia membuat cerita yang menarik serta bagaimana cara membuat dialog dan memunculkan penokohan. Selama mendengarkan cerita mungkin sang guru bisa meminta anak anak untuk menutup mata mereka dan membayangkan apa yang sedang terjadi dalam ceritanya.Lalu setelah selesai, mungkin guru bisa meminta pendapat anak anak tentang cara penulisan yang bagaimanakah yang mereka tak suka dari penulis. Cerita yang dibacakan tadi disajikan di kelas dan biarkan anak anak membuat semacam analisa kritis tentang bahan bacaan tersebut. Berikut ini adalah beberapa manfaat guru membaca nyaring di depan kelas bagi anak-anak kita (Michener: 1988): Membaca nyaraing akan:

  1. Membantu mereka untuk belajar cara membaca dengan lebih baik

  2. meningkatkan kemampuan mendengarkan mereka

  3. meningkatkan kemampuan mereka untuk membaca secara mandiri

  4. Memperluas jangkauan kosakata mereka

  5. meningkatkan pemamahaman bacaan mereka

  6. Membantu mereka untuk menjadi pembicara yang lebih baik

  7. meningkatkan kemampuan mereka sebagai penulis

  8. meningkatkan kemampuan mereka dalam kuantitas dan kualitas mereka dalam membaca secara mandiri

maka dari itu dalam hal ini guru harus mengenali intonasi dan nada dari masing masing ungkapan sehingga bisa membuat ilustrasi yang pada akhirnya akan memberi kesempatn pada guru untuk mengeksplor kata kunci dan frase serta melihat bagaimana reaksi siswa akan bahan bahan bacaannya. Karya cerita yang dibacakan oleh anak anak sebaiknya cerita yang anak anak akan merasa kesulitan bila membaca sendiri, cerita yang sangat dikuasai guru dan cerita yang menyajikan cirri-ciri kesusastraan yang baik. Meskipun kebanyakan guru cenderung memilih cerita fiksi, namun Doiron (1994) menganjurkan agar guru juga membacakan cerita nonfiksi sebagai bentuk penyeimbang. Anak-anak juga bisa menjadi pencerita yang baik dan mereka bisa juga mengembangkan kelancaran dan ekspresi mereka dalam bahasa lisan. Sebagai pencerita yang baik maka anak anak harus sadarka an hal hal yang berhubungan dengan tekanan suara, volume, timing(waktu yang tepat untuk bercerita), dan gerak anggota tubuh serta seberapa tanggap pendengarnya dalam mendengarkan ceritanya. Perkembangan yang logis bagi anak anak adalah saat anak anak mengembangkan keterampilan mereka dari keterampilan mereka mendengarkan, membaca, dan bercerita sampai akhirnya bisa menulis cerita, yang bisaanya didasarkan pada pola kesusastraaan yang telah mereka ketahui (Peck, 1989).

Bagaimanakah memilih karya sastra

Dari ribuan bacaan yang tersedia bagi siswa anak-anak dari itu guru dan spesialis atau pakar media harus pandai pandai dalam memilih kesusastraan yang berkualitas baik yang mereka kira anak anak akan mau membacanya. Membuat sebuah keputusan akan memilih sebuah karya sastra adalah sebuah tantangan dan sebuah tanggung jawab. Guru bisa mengetahui ketertarikan baca anak-anak perorangan dengan cara meminta mereka mendata tiga macam hal –hal yang menarik bagi mereka atau dengan cara mengetahui ketertarikan mereka dengan sebuah strategi penemuan yang bisa anda lihat dalam bab 7.

Ada banyak alat bantuan atau petunjuk yang bisa kita gunakan untuk membantu kita dalam memilih dan menilai sebuah buku atau sumber bacaan untuk tujuan tertentu

Beberpa pakar pendidikan mengajurkan untuk memilih karya klasik yang telah digunakan selama bertahun –tahun sebagai dasar aktivitas baca anak anak. Tapi dalam hal ini tidak semua karya klasik bisa dibaca anak anak karena banyak juga diantara karya klasik ini yang sangat membosankan sehingga bisa saja dengan membaca karya ini anak anak akan bisa jauh dari baca dan membenci membaca.

Pertimbangan yang lain yang perlu kita pertimbangkan saat memilih buku adalah kebermaknaan sosialnya dalam hubungannya dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia, pluralisme/kemajemukan budaya, standar estetika (Norton, 1991). Bagi anak anak minoritas kesusastraan multicultural yang didasarkan atas tradisi dan nilai yang umum akan bisa mereka jadikan cerminan akan budaya mereka dan pengalaman mereka selama ini. Bagi anak anak yang besar di keluarga campuran maka buku semacam itu akan memberikan mereka jendela buday akan hal hal dalam budaya yang belum pernah mereka ketahui (Cox dan Galda, 1990).

Dalam membantu memilihkan buku bagi anak anak maka seorang guru harus tahu akan buku-buku yang tersedia dan buku buku apa saja yang menarik minat mereka. Anak anak juga bisa kita beri kesempatan untuk memilih topic mereka dengan cara mebiarkan mereka untuk mengembara dalam perpustakaan dan menentukan sendiri buku-buku yang mereka sukai. Selain itu jika anak anak dirasa tak membutuhkan bantuan kita mak akan sangat lebih bijak jika guru memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih buku yang mereka sukai.

Saat ini banyak sekali majalah anak-anak yang menyediakan bahan bacaan dengan berbagai mcam tingkatan dan berbagai macam minat. Periodikal adalah salah satu bahan bacaan yang sangat baik bagi anak anak dan membawa berbagi macam manfaat bagi program membaca diantaranya: bahan yang disajikan bisaanya sangat up to date (terbaru) atau bahan abahan yang lagi “in” lagi banyak dibicarakan orang (topiknya hangat”, tingkatan kesulitan bahasa dan isinya sangat bervariasi; 3) ada beberapa macam jenis bacaan yang ditampilkan pada isu yang sama, 4) ada berbagai macam kegiatan bahasa misalnya kuis, tebak kata, dan tulisan siswa bisanya juga dimuat dalam bacaan jenis ini, 5) ilustrasi dan foto-fotonya sangat jelas dan bisa membantu dalam upaya menyajikan pemahaman bagi anak anak dan 6) harganya yang murah sehingga bisa dimiliki oleh siapapun (Seminoff, 1986). Selain itu adanya perpustakaan kelas juga akan sangat membantu. Untuk menciptakan perpustakaan kelas maka guru harus mempertimbangkan berbagai macam sumber dan dalam hal ini sangat berkaitan dengan kualitas bahn bacaan. Hal hal yang harus dipertimbangkan meliputi:

  • karya yang bisa dijangkau harganya

  • membeli buku-buku yang khusus di pasar loak

  • Memanfaat kan bonus yang ada pada took-toko buku

  • Mengeluarkan uang untuk keperluan sekolah yang bermanfaat

  • Menggunakan sebagian dana sekolah untuk membeli buku-buku yang bisa menyajikan hiburan dibandingkan dnegan buku teks dan buku pekerjaan siswa

  • Menyatukan kembali buku-buku yang telah dibuang dari perpustakaan umum

  • Meminta buku dari teman-teman yang dahulu anak anaknya suka baca buku

  • Meminta sswa untuk mebelikan buku bagi kelas sebagai ganti hadiah natal bagi guru

  • Saling bertukar buku dengan guru lain

  • Meminjam buku dari perpustakaan rumah

Menanggapi karya sastra (literatur)

Saat anak anak dihadapkan pada buku mereka akan menyukainya, dan sangat ingin menanggapinya. Dan dalam hal ini guru harus memberikan mereka kesempatan untuk bagi siswa untuk memberikan berbagai macam tanggapan sehingga bisa memberikan anak anak kesempatan untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan merasa memiliki karya itu. Dalam hal ini guru harus menyadri bahwa tanggapan anak anak terhadap karya sastra berbeda satu sama lainnya sehingga guru harus siap menghargai, menerima dan memberikan penghargaan yang setinggi tingginya atas upaya pemahaman siswa (Sweet, 1993 halaman 8). Untuk siswa siswa yang belum tahu bagaimana cara menangapi krya sastra , maka guru bisa memberikan saran ataumodel prosedurnya. Da dua macam hal yang guru harus hindari adalah (1) guru tidak boleh membiarkan karya sastra terbayang bayangi oleh tanggapan yang diberikan siswa (maksudnya adalah esensi atau makna karya sistra tersebut jadi kabur karena berbagai macam interpretasi yang dibuat siswa= guru harus punya pemahaman sendiri) dan (2) memberikan siswa selembar kertas yang nantinya kertas tersebut akan dinilai tentang salah atau benarnya analisis yang dibuat oleh siswa.

Membuat kelompok yang menanggapi karya sastra

Salah satu cara yang terorganisir tentang bagaimana cara menanggapi sebuah karya adalah dengn cara membentuk kelompok yang mana dalam kelompok tersebut akan da anak ank yang terdiri atas lima orang yang akan terlibat dalam berbagai macam kegiatan misalnya membaca dan menanggapi karya sastra, terlibat dalam proses pemikiran tingkat tinggi, dan melakukan kegiatan membaca intensif (di dalam kelas) dan ekstensif (di luar kelas).Bisaanya akan ada sekitar tiga atau empat kelompok yang beranggotakan empat sampai delapan orang. Pada dasarnyza proses praktiknya atau prosedurnya bermacam macam namun berikut ini adalah praktik yang umumnya dilakukan:

  1. Sediakan siswa dengan berbagai macam fotokopi karya sastra dari berbagai macam sumber buku yang bermutu dan mintalah siswa untuk menuliskan namanya dan pilihannya akan bahan bacaan yang ada. Bentuklah kelompok berdasarkan berdasarkan minat siswa dan bukan berdasarkan tingkatan prestasi siswa.

  2. Jelaskankarya sastra yang ada agar siswa mampu menulis tentang apa yang mereka baca.

  3. Mintalah anak anak melihat bukunya, dan seberapa jauh mereka bisa baca dalam jangkauan wktu tertentu.

  4. Dalam kelompok itu guru membuat semacam aktivitas yang memungkinkan siswa untuk membaca pelan, saling berbagi pengalaman baca, bertanya, mendiskusikan apa yang mereka telah baca, dan memungkinkan siswa untuk melakukan aktivitas yang lebih lanjut.

  5. Dukunglah siswa untuk melakukan kegiatan susulan secara individu, kelompok. Misalnya dengan membaca buku yang sama, drama yang sama atau membaca epilog cerita bersama.

  6. Mintalah sswa untuk menilai penampilan mereka sendiri dengan sarana checklist berikut. Bahas evaluasi yang telah dibuat siswa. (Chekslist bisa berisikan apakah siswa: telah menggunakan waktu dengan bijak, melengkapim latohan yang diperintahkan, berperan aktif dalam diskusi, mendengarkan yang lain dengan seksama, bisa menulis karya sastra, dan apakah siswa bisa saling membantu dalam mengerjakan tuigas susulan).

  7. Simpanlah daftar cheklist tersebu yang nantinya akan bisa digunakan saat berdiskusi lagi.

Interpretasi lisan terhadap karya sastra

Pembacaan lisan yang lancar dengan intonasi dan frase yang tepat secara benar akan bisa kita gunakan untuk mereflrksikan mood dan nda cerita atau puisi tau dengan kata lain adalah cara lain untuk menanggpi sebuah karya sastra. Dengan kata lain bisa dikatakanm agar kita bisa mengomunikasika atau menyampaikan pesan penulis pada pembaca maka seorang pembaca harus mengucapkan kata-kata dengan baik, bisa memparafrasekan denagn baik, mengguakan intonasi dengan baik, dan tahu saat yang baik untuk berhenti dan tidak saat membaca. Untuk mencapai hal hal ini maka seorang pembaca harus kita berikan kesempatn untuk membaca dengan pelan dahulu sehingga ia bisa mengenali gaya tulisan penulis, menentukan pesan penulis dalam karya tulisan itu, dan memberi kita kesempatan untuk memeriksa pengejaan yang baik dari kata-kata yang kurang dikenal.Jika bacaan itu sulit maka pembaca perlu berlatih dahulu dengan suara nyaring untuk memastikan kebenaran frase dan intonasi yang tepat.

Pembacaan secara lisan perlu kita perhatikan. Dalam hal ini tak semua guru bisa menampilkan pembacaan lisan yang baik ada juga yang buruk sehingga anak anak kita bisa menilai kita. Maka dari itu sebelum membaca sebuah karya atau bacaan ada baiknya kita memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Yakinkan diri anda kalau anda bisa mengucapkan masing masing kata dengan benar sebelum anda mulai membacanya di depan anak anak.

  2. Katakan masing masing kata dengan jelas dan berbeda. Jangan menggabung gabungkan kata dan jangan meninggalkanbagian dari kata dan menambahi bagian yang tak ada.

  3. Berhentilah di tempat yang benar. Perhatikan petunjuk pada pengucapan.

  4. Tekan kata kata yang penting. Bantu siswa untuk menggali makna yang tersimpan dalam kata itu dengan car abaca anda. Bacalah dengan cukup pelan agar mudah dimengerti sehingga kata katanya akan mudah terdengar.

  5. Adalan persiapan yang matang sebelum anda mulai membaca di depan ereka.

Saat anda membacakan sebuah bacaan yang anda bacakan dengan nyaring pada anak anak maka yakinkan kalau anak anak belum pernah mendengarkan bacaan ini sebelumnya jadi siswa tak akan punya kesempatan untuk mengikuti pembaca melalui indera matanya tapi mereka akan berkonsentrasi untuk mengikuti pembaca melalui indera pendengarannya. Dalam proses ini seorang guru atau pembaca yang baik akan terus berusaha agar siswa memndengarkan apa yang ia baca secara seksama dengan mepertahankan gaya membaca yang baik. Pendengar yang kelihatan tak sabar dan tk seksama akan menghasilkan suasana mendengarkan yang tidak baik. Berikut ini adalah beberapa tujuan dari membaca nyaring di depan anak anak:

  1. mengharapkan sebuah jawaban atas pertanyaan yang diajukan dan jawaban pertanyaan itu mungkin bisa ditemukan dalam bacaan yang dibacakan tadi

  2. Membaca dengan suara nyaring adalah bagian dari tugas penceritaan dalam kelas yang menceritakan hal hal yang paling lucu, paling sedih atau menceritakan orang atau tempat tertentu

  3. Membacakan cerita di depan kelas harus dimulai dengan suasana atau latar belakang yang menarik dari topic yang disajikan

  4. membaca di depan kelas juga dibuat sebagai sarana menyampaikan informasi (pengumuman) atau undangan

  5. sebagai media berbagi pengalaman atas cerita yang disajikan dan sebagai sarana kegiatan yang menyajikan kesenangan dan hiburan.

  6. Membaca dengan nayaring di depan kelas adalah sarana latihan dalam seni baca )choral) dalam permaianan teater

  7. membaca dengan keras bisa kita gunakan untuk memberi petunjuk atas kelompok tertentu seperti petunjuk dalam melakukan aktivitas tertentu, saat melakukan percobaan tertentu, membuat semacam model atau menunjukkan bagaimana cara melakukan permaian tertentu

  8. Membaca keras di depan kelas juga merupakan bagian program di kelas yang mana siswa akan menghabiskan waktu sekitar 40 menit seminggunya alam sesi membaca dengan nyaring yang mana dalam hal ini anak anak secara bergantian membaca dengan nyaring di depan kelas yaitu membaca buku buku yang disukainya.

  9. Sebagai sarana untuk berbagi cerita, sarana bercanda dan sebagai permainan lidah untuk menyenangkan teman sekelas.

  10. Sebagai sarana kegiatan membaca untuk mengajarkan siswa dengan tingkatan kelas rendah/ bawah yang masigh sangat perlu bantuan guru untuk membaca keras karena mereka belum mampu.

  11. Sebagai sarana membaca untuk melatih bagaimana seseorang bermain dalam drama, sertya bagaimana cara melatih penokohan dan dramatisasi.

Tanggapan-tanggapan yang dilakukan melalui drama

Proses dramatisasi meliputi berbagai macam kegiatan sebagai berikut:

  1. Membuat pantomime atas situasi dalam cerita

  2. Menampilakan penokohan atas benda atau orang

  3. Meningkatkan situasi dan dramatisasi situasi dalam cerita

  4. membaca dan menciptakan drama melalui berbagai macam alat Bantu seperti wayang

  5. menampilkan teater pembaca

  6. membaca dan berbica dengan sajak choral (nyaraing)

Selama berabad-abad, komunikasi juga bisa dilakukan dengan cara gerakan tubuh. Pergerakan cerita yng ditampilkan melalui gerk anggota badan sangat merik siswa dan membuat mereka senang dan “pantomime”, adalah salah satu cara bagaimana cara mewuhudkan hal ini. Selain itu untuk memunculkan “penokohan” maka si guru juga bisa meminta siswanya tentang bagaimana cara jalan objek tertentu.

Berakting tanpa naskah bisa kita sebut dengan teknik “improvisasi” atau “drama kreatif”. Anak anak yang ikut serta dalam berbagai macam bentuk drama terlebih dahulu harus memahami bagaimana pearan masing masing tokoh dalam cerita itu. Bisaanya hal ini dilakukan dengan cara guru membaca ceritanya lalu siswa menanggapi dengan cara menunjukkan pada guru bagaimana cara mengaktingkannya/mempraktikkannya.

Wayang atau boneka tangan juga bisa kita gunakan sebagai salah satu alat Bantu yang dapat kita gunakan untuk menampilkan sebuah cerita yang diikuti oleh gerakan. Bisaanya drama tangan ini disertai dengan gerakan musik.

Dalam teater drama, anak anak membaca dengan nyaring naskah drama yang ada dan menerapkan berbagai macam gaya penampilan yang ada. Dalam latihan tak perlu mekakai peralatan atau kostum yang lengkap atau yang seperti disaratkan dalam naskah terlebih dahulu namun kegiatan lebih ditekankan pada aspek pemaknaan dahulu agar siswa tahu dan paham apa yang harus dilakukannya (Cullinan dan Galda, 1994; savage, 1994). Pembaca harus memahami secara penuh karakter atau tokoh yang diperankannya sehingga mereka bisa memahami perannya dalam cerita secara penuh. Sebelum latihan bisaanya acara gladi bersih perlu dilakukan dengan menambahkan efeksuara atau musik latar belakang yang cocok dengan ceritanya dan menampilkan ceritanya.

Tanggapan melalui tulisan

Tulisan yang dibuat anak berkaitan dengan tanggapan anak terhadap cerita yang dibacanya bisaanya berbentuk laporan tertulis yang mengetengahkan rangkuman siswa atas alur cerita yang diolah menjadi tanggapan yang alami, kreatif. Dalam hal ini siswa kita ajak untuk terlibat secara penuh dalam apa yang mereka baca dan memberikan analisis kritis bwerkaitan dengan bahan bacaan yang mereka baca. Dalam satu kelas anak anak juga bisa menampilkan beberapa daftar buku yang telah mereka baca dan merekomendasikannya dalam bulletin kelas agar dibahas dalam kelas selanjutnya.

Berikut ini adalah beberapa cara berupa latihan tambahan yang berpusat pada tanggapan yang berupa tulisan:

  1. Minta siswa untuk mengumpulkan buku sebanyak yang mereka sukai

  2. Biarkan siswa mendata dan membuat rangkuman atas buku buku yang pernah ia baca sekaligus informasi mengenai nama penulisnya

  3. Mintalah siswa menuliskan tokoh dalam cerita yang mereka sukai

  4. Berikan kesempatan pada siswa untuk membaca biografi dari penulis yang terkenal dalam sejarah dan berikan mereka kesempatan untuk menuliskan apa yang terjadi dengan orang tersebut saat ini.

  5. Pilihlah buku bernuansa lingkungan dan mintalah anak anak menuliskan solusi apa yang sekiranya bisa mereka berikan berkaitan dengan masalkah yang dihadapi.

  6. Minatalah siswa untuk mendata berbagai macam hal yang berkaitan dengan uapacara perayaaan. Dan mintalah siswa untuk mendata perayaan apa saja yang mereka alami dalam sebuah jurnal.

  7. Mintalah siswa membaca beberapa buku dengan pengarang yang sama lalu diskusikanlah karakteristk yang ada dalam pengarang itu.

  8. Mintalah siswa untuk membaca buku twentang orang tua lalu minta mereka untuk menuliskan hal hal yang berhubungan dengan orang tua lalu minta mereka untuk membantu para lanjut usia dalam mengarungi usia yang lanjut itu.

Menanggapi karya sastra melalui seni dan musik

Banyak siswa yang merasa ksulitan untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan melalui kata-kata bisaanya lebih suka untuk menanggapai apa yang mereka baca melalui cara yang lain (Hoyt, 1992). Seni dan musik menawarkan pilihan yang kreatif bagi anak anak.

Melalui pajanan gambar yang ada dalam buku anak anak akan belajar bagaimana menghargai karya seni dan mulai apapkah mereka tertari k menjadi seorang illustrator untuk kepentingan seni diri sendiri (Galda dan Short, 1993). Mereka akan bisa menginterpretasikan cerita berbagai macam media seni yang meliputi media tanah liat, cat, kertas, pita, pensil warna dan objek tiga dimensi yang lainnya. Dengan menggunakan media yang demikian itu, mereka akan bisa menciptakan diorama dan gambar wayang yang bisa berbgerak dan bisa mereka koleksi untuk koleksi bahan cerita sendiri (Russel, 1994).

Selain gambar media pengungkapan yang lain juga bisa berupa musik (lagu) yang mana akan memberikan kesempatan pada anak anak untuk mencocokkan kata kata yang mereka nyanyikan dengan apa yang mereka lihat dalam media cetak (beaty, 1994)

Menyatukan karya sastra dalam lintas kurikulum

Bagi anak anak yang menganggap buku teks sebagai buku yang membosankan maka mereka bisa beralih memilih buku buku komersil yang tersedia dalam berbagai macam genre (jenis) yang menawarkan mereka media belajar yang bervariasi.

Guru bisa memanfaatkan buku buku komersial ini untuk memperkenalkan konsep angka, bentuk dan perhitungan matematis lainnya. Pelajaran kosakata akan jauh lebih menyenangkan bila diperkenalkan dan disajikan dalam bentuk buku komersiil yang membahas masalah permainan kata dan mempelajari berbagai macam cirri-ciri kata (Blatt, 1978; Burke, 1978).

Berikut ini adalah daftar berbagai macam aktivitas yang mengkombinasikan berbagi macam tanggapan atas karya sastra. Nilai tambah atas penggunaan berbagai macam karya sastra yang berbeda ini bisa siswa gunakan untuk menyatukan kurikulum yang ada agar menjadi jelas bagi siswa saat siswa belajar tentang sejarah atau membaca tentang karya biografi dari orang yang terkenal, belajar tentang geografi tentang bagaimana cara memperbandingkan berbagi macam sudut pandang dari buku satu dengan buku lain dalam berbagai Negara, serta hubungan berbagai macam konsep tentang buku-buku lingkungan serta bisa mencapai berbagai macam kemanfaatan yang ada hubuagannya dengan perkembangan dan cara mengembangkan konflik yang ada dalam cerita dll.

  1. Saat ada lebih dari satu anak yang membaca buku yang sama maka cobalah berbagai macam saran sebagai berikut: mainkan wayang tangan dengan diiiringi suara musik dari tape yang menyajikan suiuara masing masing tokoh, memperbandingkan perkembangan atas masing masing tokoh yang ada dalam cerita, mempelajari tentang konflik dan bagaimana cara membuat ending /akhir yang baik dalam sebuah cerita.

  2. Untuk karya biografi, mintalah siswa untuk mendiskusikan masa kanak kanak dari orang terkenal, apa yang menyebabkan mereka hingga bisa terkenal, dan perjuangan apa saja yang dilalui orang orang ini hingga akhirnya bisa sukses.

  3. saat anak anak kita sedsng membaca buku tentang orang orang dengan karya kreatifnya maka anak anak bisa kita minta untuk mereview (membahas) karya kreatif mereka atau bisa juga kita minta untuk menampilkan karya temuan orang yang terkenal itu.

  4. Jika kita membahas buku buku wisata maka mintalah anak anak kita untuk membawa beberapa buku wisata dari berbagai macam Negara dan mintalah mereka untuk menunjukkan dimana letak tempatnya dengan bantuan peta.

  5. Untuk karya fiksi yang realistic maka mintalah anak anak untuk meneliti penokohan yang ada bagaimana konflik yang ada dalam cerita dan bagaimana menyelesaiakn maslah yang sedang dihadapi dan mintalah anak ank untuk membuat solusi atas segala macam permasalahan yang dihadapi oleh masing masing tokoh.

  6. Dari berbagai macam buku yang tersedia maka mintalah siswa anda untuk mengembangkan sebuah aktivitas berupa proyerk kerja bisa berupa drama atau diskusi panel terserah pada apa yang mereka anggap menarik.

  7. bagilah kelas menjadi beberapa kelompok dan mintalah mereka untuk memilih topic yang lebih luas misalnya tentang binatang, hari libur atau alam. Pinjamlah beberapa karya puisi atau antologi dari perpustakaan dan mintalah mereka bekerja dalam kelompok dan minta mereka mencari masing masing topic dalam setiap puisi atau dengan merekam puisi yang ada lalu memeragakannya dengan cara pantomime saat yang lain membacanya dengan keras.

  8. Buatlah semacam aktivitas diskusi panel yang mana ada beberapa siswa yang membaca buku yang berbeda yang ditulis oleh pengarang yang sama lalu mintalah mereka untuk membahas masalah perbedaan dan persamaan yang adasekaligus kelebihan dan kelemahan pengarang, filofofi umum, dan perubahan gaya dari waktu ke waktu.

Unit Tematik

Unit-unit tematik bisa kita gunakan dalam pengajaran kesusastraan dan cara ini dianggap efektif untuk menyatukan kesusastraan dalam lintas kurikulum dan sebagai salah satu cara memperluas pengetahuan.

Webbing (jaring2 ide) adalah salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk menghubungkan topic utama atau dalam hal ini adalah buku dengan berbagai macam ide lainnya yang saling berkaitan. Sebuah web adalah cerminan dari jalan pintas yang diambil dalam pengajaran kurikulum. Menekankan pada seperti apa sebuah Web itu maka Huck, Hepler, dan Hickman (1993) menyarankan proses webbing sebagai salah satu teknik yang bisa kita gunakan dalam pengajaran sastra yang dianggap bisa meningkatkan kecintaan siswa terhadap buku yang akan dibacanya. Meskipun dalam system web ini seluruh ide berasal dari guru namun dalam hal ini siswa juga bisa menambahkan ide lain dalam jarring-jaring itu.

Masih dalam hal web ini pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Norton (1993) yang menyarankan sebuah prosedur untuk mengembangakan sebuah unit bacaan. Langkah pertama, adalah dengan mengidentifikasi sebuah tema yang bisa kita kembangkan dengan berbagai macam sumber bacaan yang ada. Lalu siswa dan guru mengembangkan sebuah system web dengan berbagai macam subtopik yang akhirnya bisa siswa gunakan untuk tema dari masing-masing siswa. Mereka lalu menempatkan buku-buku dan sumber bacaan yang lainnya dan saling berbagi ide secara kreatif dengan seluruh anggota kelas.

Contoh

  1. Biarkan siswa membaca dan membandingkan berbagai macam cerita rakyat, yang dimulai dari cerita modern lalu beralih ke ceritan yang kuno

  2. Doronglah siswa untuk bercerita, menceritakan cerita idolanya atau menciptakan cerita baru

  3. Membaca atau bercerita tentang cerita rakyat pada siswa lain

  4. memberikan siswa kesempatan untuk menemukan asal muasal kata dan majasnya khususnya dalam mitos

  5. biarkan anak anak mendramatisasikan cerita rakyat dengan menggunakan wayang tangan, pantomim, teater dan drama kreatif

  6. Doronglah siswa untuk menulis secara kreatif. Mintalah mereka:

  1. mempelajari ciri-ciri fabel

  2. menulis cerita rakyat modern

  3. meruibah balada jadi cerita rakyat dan iringilah dengan musik

  4. Buatlah cerita rakyat asli

  5. Membuat ending.akhir cerita yang baru pada cerita rakyat tertentu

  6. Memilih karya yang berasal dari koran dan temukan pesan moral yang ada didalamnya

  1. Bantu siswa untuk menemukan bagaimana ceriuta rakyat ini dulunya dikomunikasikan

  2. undanglah seorang narator untuk bercerita di hadapan anak anak. Minta anak anak untuk mewawancarai narator itu tentang bagaimana cerita tersebut dulunya diperkenalkan

  3. Mintalah siswa untuk membandingkan persamaan tokoh dan tujuan dalam sebuah cerita rakyat dari seluruh dunia

  4. Mintalah siswa untuk meletakkan asal muasal cerita rakyat dalam berbagai macam versi

  5. Mintalah siswa untuk membandingkan seni yang digunakan untuk menggambarkan cerita rakyat tertentu

  6. Sediakan anak anak tape atau musik yang sesuai dengan cerita rakyatnya

  7. Mintalah siswa untuk mengali pesan moral yang coba disampaikan oleh cerita rakyat tertentu dan bandingkan dengan karya sastra jaman sekarang

  8. Mintalah sisw untuk mebuat garis waktu yang menyatakn atau menunjukkan waktu dimana cerita tersebut pertama kali dibuat

Bekerja dengan dukungan teman kerja

Para guru dan pustakawan harus bekerja bersama sama dalam upaya penyediaan bahan bahan perpustakaan yang bermutu, hal ini digunakan untuk saling menguatkan pemahaman atau juga ketertarikan siswa dalam membaca. Dalam hal ini guru memberikan saran bagi pra pustakawan tentang buku apa saja yang dibutuhkan siswa dalam pengajaran dan buku buku lain apa saja yang sekiranya menarik minat siswa.

Buku Sumber

Burns, Paul C., Roe, Betty D., and Ross, Elinor P. 1996. Teaching Reading in Today’s Elementary Schools. Boston: Houghton Mifflin Company.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: