Model Penelitian Etnografi dan Etnometodologi

Ethnographi merupakan salah satu model penelitian yang lebih banyak terkait dengan anthropologi, yang mempelajari peristiwa cultural, yang menyajikan pandangan hidup subyek yang menjadi obyek studi. Lebih jauh ethonographik telah diperkembangkan menjadi salah satu model penelitian ilmu-ilmu social yang menggunakan landasan filsafat phenomenologi. Studi ethnographic merupakan salah satu deskripsi tentang cara mereka berfikir, hidup, berprilaku; kalau sbyek studi kita anak-anak TK, maka kita peneliti berupaya menghayati dan mendeskripsikan bagaimana anak TK menghayati interaksi di TK, bagaimana persepsi mereka (bukan persepsi berdasar angan kita yang dewasa). Ethnographi bukan deskripsi kehidupan masyarakat kita dalam beragam situasinya, sebagaimana adanya: dalam kehidupan kesehariannya, cara mereka memandang kehidupan, perilakunya dan semacamnya. Ethnomethodologi merupakan metodologi penelitian yang mempelajari bagaimana perilaku social dapat dideskripsikan sebagaimana adanya. Istilah ethnometodologi dikemukakan oleh Harold Garfinkel.

Ethnometodhodologi berupaya untuk memahami bagaimana masyarakat memandang, menjelaskan dan menggambarkan kata hidup mereka sendiri. Agar dapat dibuat laporan ethnographic perlu dipelajari metodologinya, yaitu ethnometodologi.

Model-Model penelitian yang serumpun adalah model grounded research dengan tokoh utamanya Glasser & Strauss, model paradigma naturalistic dengan tokoh utamanya Blumer dan Kuhn. Ketiga model tersebut bersama model ethnographik-ethnometodologik merupakan sampel utama perkembangan utama metodologi penelitian kualitatif.

Modus Asumsi dan Sampel Penelitian Ethnographik

Konseptualisasi metodologik model penelitian ethnographic dapat dikerangkakan menjadi empat dimensi, yaitu : 1) induksi deduksi, 2) generatif-verifikatif, 3) konstruktif-enumeratif, dan 4) subyektif-obyektif. Penelitian ethnographic lebih cenderung mengarah ke kutub induktif, generatif, konstruktif, dan subyektif.

Dimensi induktif-deduktif menunuk kedudukan teori dalam studi penelitian; penelitian deduktif berharap data empirikdapat mendukung teori; sedangkan penelitian induktif berharap dapat menemukan teori yang dapat menjelakan datanya. Dimensi generatif-verifikatif menunjuk kedudukan dalam evidensi dalam studi penelitian; penelitian verifikatif berupaya mencari evidensi agar hipotesinya dapat diaplikasikan lebih luas, dapat diperlakukan universal; sedangkan penelitian generatif lebih mengarah ke penemuan konstruksi dan proposisi dengan menggunakan data sebagai evidensi.

Dimensi konstruktif-enumeratif menunjukkan seberapa jauh unit analisis suatu penelitian dirumuskan ataudijabarkan. Dalam penelitian dengan strategi konstruktif mengarahkan penelitiannya untuk menemukan konstruks atau kategori lewat analisis dan proses mengabstraksi; sedangkan strategi enumeratif dimulai dengan menjabarkan atau merumuskan unit analisis. Desain penelitian dapat pula dilihat pada dimensi kontinum antara subyektif dengan obyektif.

Telah Terbit Buku  Seputar Penelitian DESIGN ACTION RESEARCH Pengarang: Erna Febru Aries S., Penerbit: ADITYA MEDIA dapatkan segera bukunya dengan hub. Tlp: 081 803 802 797

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: