Hakikat Ilmu Pengetahuan dalam Tatanan Kehidupan

Ilmu adalah penyempadanan (pembatasan) prosedur-prosedur yang dapat membimbing penelitian menurut arah tertentu. Ilmu berubah sesuai lingkungan budaya dan konstelasi sosial. Dalam arti ini ilmu harus sanggup mengakui pengaruh timbal balik dari penilaian. Ilmu merupakan keseimbangan yang berharga menghadapi ideologi. Suatu ideologi dapat menyelamatkan ilmu menjadi pandangan dunia atau agama. Ilmu merupakan serangkaian peta mengenai endapan pengetahuan, namun sekaligus memperluas kemungkinan agar manusia dapat menentukan kiblat. Ilmu lebih daripada hanya cungkilan dari kebenaran teoritis melulu.

Menerapkan ilmu pada kejuruan dan teknik mempengaruhi kegiatan ilmiah, akan tetapi sebagai penerapan yang lebih merupakan akibat penggunaan metode yang tepat dalam ilmu sendiri. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Atau “suatu jalan yang harus ditempuh”. Metode digunakan dengan tujuan agar manusia tidak bekerja dengan semaunya saja, akan tetapi dengan cermat menentukan jalan menuju tujuan. Metode mempunyai kedudukan yang khas dalam ilmu. Suatu metode disusun menurut bahasa atau lebih luas, memakai sistem lambang. Oleh karena itu metode ilmiah timbul dengan membatasi secara tegas bahasa yang dipakai oleh ilmu tertentu.

Bahasa Ilmu sebagai bagian bahasa pergaulan (“epibahasa”) dan system bahasa ilmiah yang baru, yang sasarannya adalah penyelidikan bahasa suatu ilmu yang sudah ada “metabahasa”. Pada bahasa sehari-hari bersifat evaluatif, tidak merupakan sistem tertutup (bermakna ganda), pemakaian bahasa yang kurang tepat. Sedangkan Bahasa Ilmiah mempunyai ciri-ciri bebas nilai membentuk sistem yang tertutup (definisi yang tunggal), pemakaian bahasa yang sesuai. Peralihan dari bahasa harian ke bahasa ilmiah sudah ada pada peralihan dari pengamatan harian ke observasi ilmiah. Pada pengamatan dan observasi sebenarnya berbeda. Observasi subyektivitas diri dikesampingkan, pemerian data nirpribadi nonpersonal), melupakan yang sudah terjadi, diatur oleh suatu metode/sebuah teori, fakta sebuah ilmu/pembatasan dalam pengamatan. Pada pengamatan bersifat emosional, subyektif, berprasangka dan dwiarti, sarat dengan ketidakpastian.

Observasi seperti pengamatan, menuju kepada pemerian. Setiap pemerian, dan secara tersirat dalam pengamatan dan observasi juga mengandung pengertian-pengertian. Dalam sistem bahasa pengertian dapat disebut ‘istilah’. Pengelompokkan (klasifikasi) terdapat pada bahasa harian maupun bahasa ilmu. Umumnya klasifikasi bahasa harian kurang teoritis, sebaliknya lebih praktis tujuannya. Klasifikasi ilmiah ditentukan oleh teori, maka jangkauannya lebih khas dan lebih pendek. Metode pengelompokkan makin teliti berkat bermacam-macam perbaikan. Titik berat usaha (klasifikasi) ini beralih dari intuitif ke yang konseptual, dan dari yang mengenai isi ke yang formal. Klasifikasi ilmiah lebih menggunakan pembagian yang kurang terperinci, yang memungkinkan pembatasan dan keputusan yang lebih jelas.

Hal ini menandakan bahwa metode suatu ilmu kiranya tidak dapat menghasilkan suatu sistem tertutup mutlak, tidak dapat dihindari, sekurang-kurangnya tidak langsung bahwa suatu sistem bahasa akhirnya ditujukan kepada dirinya sendiri, dan tidak dapat memencilkan diri ke dalam strukturnya lepas dari bahasa harian. Observasi dan klasifikasi bertautan erat. Kedua-duanya dihasilkan oleh metode ilmiah. Klasifikasi-klasifikasi berkurang sifat alamiahnya dan lebih bersifat buatan. Observasi dan klasifikasi ilmiah menangani gejala lebih sadar sehingga lebih dialihragamkan. Metode ilmiah memperbesar kekuasaan atas gejala. Ilmu menjadi bebas memaksakan gejala memasuki kerangka-kerangka yang sudah jadi.

Ilmu mempunyai ciri khas sebagai sitem terbuka, tetapi ilmu sering dianggap sebagai sistem tertutup. Menurut A. Comte setiap ilmu terdiri atas koordinasi fakta dan makin maju ilmu-ilmu, fakta makin bergayut pada metode. Secara metodis terjadinya suatu ilmu dapat berlangsung juga tanpa diiringi timbulnya masalah-masalah berkat peranan percobaan-percobaan itu berfungsi sebagai gerbang. Terdapat pandangan ilmu sebagai sistem terbuka. Ilmu memiliki kedudukan sendiri tetapi dalam saling tindak dengan konteks, yang ikut mempengaruhi perkembangan lebih lanjut sistem ilmiah. Terdapat otonomi ilmu, namun otonomi yang relatif atau lebih tepat rasional artinya otonomi yang berfungsi dalam hubungan dengan konteks politis, sosial, etis, dan pandangan hidup. Istilah sistem terbuka sering dipakai, mula-mula untuk gejala tertentu, kemudian untuk seluruh bangunan ilmu. Bagi manusia istilah ‘sistem terbuka’ mendapat arti yang lebih luas. Boleh dikatakan bahwa seluruh kebudayaan manusiawi, termasuk pertanian, urbanisasi, permainan, aturan, susila, kesenian, dan agama merupakan bagian dari sistem terbuka manusiawi.

Ciri ilmu merupakan sistem terbuka adalah ilmu merupakan kebudayaan manusiawi, Ilmu berbentuk dinamis, dan yang menanggapi dunia sekelilingnya. Kemandirian (otonomi), tetapi yang amat luwes lewat penyesuaian terus menerus kepada informasi dari konteks dan lewat pembaruan kreatif. Teori ternyata merupakan keseimbangan antara ‘konsepsi’ dan ‘empiris’. Ini sesuai dengan sifat system terbuka yang selalu merupakan keseimbangan dinamis antara pengaruh dari dunia luar. Ilmu dengan seluruh rengrengan keterangan ternyata tidak dapat dilihat lepas dari konteks. Sistem ini mempunyai juga fungsi menjangkau, meramalkan dan mencari arah. “menerangkan” ternyata ada hubungan dengan ‘pengertian’ dan ‘memahami’, artinya kesadaran akan adanya bidang kemungkinan yang lebih luas untuk mengembangkan suatu teori ilmiah.

Menurut ahli filsafat klasik, seperti B. Spinoza dan G. W. Leibniz, tetapi juga menurut anggapan sehari-hari, yang kadang-kadang bersifat intuitif dalam banyak ilmu, hukum sebab akibat berlaku di seluruh alam semesta. Kausalitas merupakan bawaan (innate) budi manusia sendiri. Menurut Kant Struktur tetap dialihkan seluruhnya dari alam kepada penyusunan ilmiah gejala dan dengan demikian ilmu mencapai ketertutupan yang lebih ketat (kausalitas keteraturan alam sendiri). W. Hamilton bernalar kausal didasarkan pada logika penalar. Bernalar kausal didasarkan pada identitas logis ‘setiap perubahan ada sebabnya’. Pendapat modern menganggap kausalitas sebagai sesuatu yang tidak pertama-tama termasuk kenyataan di luar ilmu, melainkan yang menyangkut pola keterangan penalaran ilmiah sendiri.

Kausalitas dalam teori ilmu modern makin menjadi bagian prosedur penjabaran. Peranan kausalitas diambil alih oleh model deduktif-nomologis. Dengan demikian pembatasan sistem ilmiah akan menjadi jelas . Ilmu mencari pembulatan penyempadanan untuk membentuk sistem tertutup. Ilmu merupakan sistem tertutup dipertentangakan dengan pendirian ekstrem lain, yaitu bahwa sebetulnya sama sekali tidak ada sistem ilmu yang otonom. Ilmu terbuka lebar, karena dihasilkan oleh konteks yaitu oleh faktor entah psikis, sosial, atau ideologis.

Psikologisme mendasarkan kepastian logis pada kontingensi berfungsinya psikis budi manusia. Metodologi ilmu tak lain tak bukan menjadi psikologi. Psikologisme meluas pada bidang lain. Ilmu juga merupakan sebuah gejala sosial ini disebut sosiologi ilmu. Apabila orang ingin menerangkan secara sosiologis melulu tidak hanya peranan ilmu dalam masyarakat, melainkan juga akan keyakinan akan kebenaran suatu teori ilmiah (fakta sosial). Ilmu dapat berperan secara khas dengan melayani masyarakat. Ilmu tidak hanya diperikan dengan bertolak dari kekuatan sosial, melainkan juga juga dengan penilaian sosial-politik. Ilmu hanya dilihat sebagai ilmu terapan. Tiada lagi ilmu murni dan segala teori hanya pegangan untuk mengubah masyarakat.

Pada sistem ilmiah selalu ada pengaruh dari luar. Suatu sistem ilmiah ialah berdasarkan struktur objektif yang mendasari pengetahuan ilmiah, meneliti apakah isi, susunan dan batas-batas ilmu tertentu. Menurut Kan istilah “ide” adalah suatu konsep yang tidak mungkin lagi dibuktikan secara ilmiah, jadi tidak termasuk struktur obyektif ilmu. Ide ini justru memungkinkan bukti ilmiah, pengaturan dan kesatuan. Bahasa Ilmiah sedapat-dapatnya menyingkirkan penilaian susila dan keterlibatan subyek. Ilmu tidak pernah merupakan suatu system tertutup bulat dan justru sifat tidak tertutup ini mengacu kepada keharusan selalu membicarakan system itu dan memperluasnya. Atau dengan lain perkataan konsistensi metodis sistem ilmiah bertautan langsung dengan keterbukaan sistem bagi ide-ide regulatif.

Metodologi ilmu menghadapi masalah yaitu (1) kreativitas dalam ilmu, (2) ilmu bersama anak kandungnya, teknik, makin berperan dalam mewujudkan masyarakat dan budaya. Kedua faktor tersebut ternyata akan berperan pada hubungan yang perlu dimiliki secara intrinsic oleh suatu sistem ilmiah, baik dengan heuristic maupun dengan etika. Etika amat berperan pada semua diskusi mengenai ilmu. Dalam kebijakan dunia pendidikan ilmu dimanfaatkan secara sadar. Adapun heuristik itu ialah teori menemukan jalan untuk menangani suatu masalah secara ilmiah. Heuristik mendahului ilmu. Ilmu sendiri justru wajib memerikan, menerangkan, membuktikan dan ini tidak mencakup secara tersurat, jalan yang dilalui menuju ilmu (heuristic). Heuristik pertama-tama merupakan upaya menemukan penyelesaian dalam lingkungan praktek kehidupan sehari-hari. Namun didalamnya mungkin terdapat bibit ilmu, yang lewat penerapan dapat menangani dunia harian dan dengan demikian menjadi alasan bagi timbulnya putusan etis.

Dalam dunia harian etika biasanya terdiri atas susunan kaidah dan banyak putusan evaluatif dalam kawasan dunia teratur tertampung dalam kaidah etis itu. Sistem suatu ilmu tetap melanjutkan susunan dan anggapan pengalaman prailmiah. Tidak hanya secara histories, melainkan juga mengenai kesahian tidak hanya factual tetapi juga logis. Setiap ilmu menyesuaikan diri dengan data, terbuka kepadanya, sekaligus berusaha menyelaraskan data ini, mengalih bentuknya di dalam jaringan lambang-lambangnya sendiri yang mempunyai daya bukti. Oleh karena itu ilmu merupakan lanjutan khas dari bakat manusia untuk mencari kiblat dan bakat itu telah tersedia sebelumnya. Timbulnya sistem rasional dari bakat-bakat tersebut, “genesis” ini, termasuk kesahian, wewenang ilmu.

Melayani masyarakat dapat menghasilkan pendirian ideologis. Yang dimaksud adalah mengabdikan ilmu kepada pilihan yang ditentukan oleh pandangan dunia (wawasan) dan atau sosial-politik. Ideologi dalam arti luas adalah setiap perangkat ide yang bersifat mengarahkan. Maka istilah ideologi tidak perlu berarti negatif. Ketegangan antara ilmu dan ideologi memaksa orang menempatkan ilmu, sebagai bagian rencana kerja sama pembangunan, dalam konteks yang lebih luas. Kebiasaan ilmiah menumbuhkan sikap kritis yang lama kelamaan menimbulkan ketegangan, yang kiranya merangsang antara agama dan ilmu. Konflik dengan ilmu dapat timbul terjadi penisbian (relativitas) segi teoritis dalam pandangan hidup religius karena tekanan dari pihak ilmu modern (astronomi, biologi dan psikologi). Ketegangan dapat berfaedah menghasilkan pengertian yang lebih mendalam mengenai sifat kebenaran religius yang tidak hanya kognitif melainkan juga kontekstual.

Sistem ilmiah bersifat dinamis, karena merupakan bentuk khas lewat obyektivitas dan ambil tenggang , mengenai usaha manusia menyingkapkan dunia dalam kebudayaannya.Ilmu merupakan bagian, mungkin juga alat, dalam strategi manusia yang menyeluruh. Strategi ini ialah keseluruhan kaidah untuk mencapai suatu tujuan. Metodologi ilmu harus tetap terbuka demi penyusunan kembali. Strategi ilmu adalah bagian strategi lebih luas dalam seluruh kebudayaan manusia. Dalam kebudayaan itu “kenyataan” masih bermatra (dimensi) lebih luas dari pada segi-segi yang hanya dapat dipahami secara teoritis. Seluruh strategi ilmu merupakan kerangka acuan, ruang rengrengan pembenaran atau keterangan baru berlaku.

Terhadap latar belakang strategi total suatu ilmu ini semua pasti tidak mengandung relativisme. Ciri-ciri (1) suatu sistem ilmu selalu mengandung suatu pilihan dan pembatasan (restriksi) tertentu, juga terhadap patokan kesahian. (2) sistem semacam itu, mengingat zaman dan kebudayaan, dapat memperoleh wujud lain. (3) dengan demikian, bentuk yang satu tidak terasingkan dari bentuk lain, jadi kesinambungan strategi tetap utuh. Suatu sistem ilmiah tertentu, menurut bangunannya yang metodologis, merupakan endapan strategi ilmu. Untuk mengenal strategi suatu ilmu, kaidah yang mendalangi tiap-tiap langkah, perlu mengerti bagaimana strategi itu terjadi, jadi mengerti heuristic. Yang dimaksud heuristic adalah bukan medan ilhan genial, penemuan kebetulan, dan ide-ide yang berani. Heuristic ialah pengertian akan wilayah lebih luas dari pada hanya sistem metodis ketat,pengertian akan jalan menuju kesahian sistem.

Heuristik relevan secara metodologis, karena dapat mengatur terjadinya suatu ilmu maupun pembaruan secara kreatif, “ikut mengatur”, artinya bahwa heuristic mencakup petunjuk dan kaidah, walaupun itu tidak memiliki bentuk tertutup logis seperti suatu metodologi. Kaidah heuristik meliputi (1) setiapstrategi suatu ilmu yang masih giat pada pratahap heuristis, meraba-raba kemungkinan untuk memperbaiki strategi yang sedang timbul. (2) menggapai kembali dari system ilmiah kepada pranggapan-praanggapan. Bukan tersurat dalam sistem tersebut, jadi yang merupakan sebagian struktur bahasan. Yang dimaksud adalah ialah pranggapan yang bersatu dengan sistem, kadang-kadang seluruh kerangka berpikir histories atau budaya, sehingga tidak dilihat. (3) akibat dari yang baru dikatakan. Heuristic dapat, karena bentuk yang logis kurang tertutup dengan pasti, menemukan alternative-alternatif. (4) bahwa proses terjadinya dan pembaruan suatu ilmu dimajukan oleh pengertian masalah etis (5) kepekaan terhadap masalah-masalah.

Heuristik tugasnya semacam sebagai fungsi jembatan. Karena menunjukkan hubungan mutlak antara ilmu dengan pengertian dan sikap luar-ilmu, memperlihatkan keterlibatan ilmu baik pada kiblat insani maupun pada kenyataan. Heuristik menimbulkan kepekaan akan konteks tetapin tidak menyediakan suatu metodologi. Maka sebetulnya tidak ada buku pegangan bagi ilmu heuristic justru ditemui pada penelitian yang memautkan ilmu dengan masalah etis, sosial dan metafisis.

Ilmu terapan merupakan bagian terbesar ilmu-ilmu. Ilmu terapan artinya lebih luas dari hanya penerapan ilmu yang meliputi bidang teknik yang lebih luas. Teknik bukan ilmu, namun ilmu-ilmu teknik termasuk wilayah ilmu, karena ilmu teknik merupakan ilmu obyek penelitian teoritis. Ciri khas ilmu terapan adalah bersifat mutlak. Percobaan tidak berfungsi sebagai penerapan, melainkan untuk menguji rancangan teoritis (hipotesis). Faktor kebetulan menjadi obyek penelitian ilmu terapan, yang juga disebut ilmu praktis. Pada ilmu terapan, ilmu memasuki masyarakat lebih mendalam. Kemudian ilmu berusaha juga menangkap lebih banyak unsur kebetulan dari konteks masuk jaringan keterangan ilmiah. Dan sebaliknya tujuan dunia praktis akan menjadi bagian dari teori ilmu. Ilmu dapat meresap masuk dunia harian secara praktis dan teknis, ilmu tidak dapat mengorbankan sistemnya, ilmu juga dapat sungguh-sungguh bekerja secara instrumental.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: