Diarsipkan di bawah: mendeskripsikan fenomena, penelitian deskriptif | Tag: mendeskripsikan fenomena, penelitian deskriptif
Diarsipkan di bawah: bantuan rohani, dunia, faktor objektif, faktor subjektif, menyiapkan diri, pendidikan, peran, tuhan | Tag: bantuan rohani, dunia, faktor objektif, faktor subjektif, menyiapkan diri, pendidikan, peran, tuhan
Diarsipkan di bawah: bersifat teknis, intensif, metode, pendekatan menguji unit, penelitian, studi kasus | Tag: bersifat teknis, intensif, metode, pendekatan menguji unit, penelitian, studi kasus
Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa (lagi…)
Diarsipkan di bawah: acuhan komprehensif, dasar PTK, kajian pustaka, kerangka acuhan, konsep, landasan empiris, prinsip, secara praktis, secara toritis | Tag: acuhan komprehensif, dasar PTK, kajian pustaka, kerangka acuhan, konsep, landasan empiris, prinsip, secara praktis, secara toritis
Diarsipkan di bawah: budaya, cukilan, ideologi, ilmu, keseimbangan, konstelasi, pembatasan, penelitian, penilaian, prosedur, sosial, toritis | Tag: budaya, cukilan, ideologi, ilmu, keseimbangan, konstelasi, pembatasan, penelitian, penilaian, prosedur, sosial, toritis
Ilmu adalah penyempadanan (pembatasan) prosedur-prosedur yang dapat membimbing penelitian menurut arah tertentu. Ilmu berubah sesuai lingkungan budaya dan konstelasi sosial. Dalam arti ini ilmu harus sanggup mengakui pengaruh timbal balik dari penilaian. Ilmu merupakan keseimbangan yang berharga menghadapi ideologi. Suatu ideologi dapat menyelamatkan ilmu menjadi pandangan dunia atau agama. Ilmu merupakan serangkaian peta mengenai endapan pengetahuan, namun sekaligus memperluas kemungkinan agar manusia dapat menentukan kiblat. Ilmu lebih daripada hanya cungkilan dari kebenaran teoritis (lagi…)
Diarsipkan di bawah: aspek stile, autobiografi, bentuk narasi, biografi, buku informasional, catatan harian, cerita, embrio, fakta, faktual, fiksi, format, ilustrasi, informasi, keakuratan dan cakupan fakta, non fiksi, pengetahuan, transfer, unsur didaktis | Tag: aspek stile, autobiografi, bentuk narasi, biografi, buku informasional, catatan harian, cerita, embrio, fakta, faktual, fiksi, format, ilustrasi, informasi, keakuratan dan cakupan fakta, non fiksi, pengetahuan, transfer, unsur didaktis
Bagi Anda yang sedang menempuh kuliah Sastra Anak dan sedang menyelesaikan tugas akhir, mungkin artikel ini dapat membantu.
Oleh: Erna Febru Aries S
Masa anak-anak adalah masa ingin tahu tentang segala sesuatu. Minat anak terhadap hal-hal yang belum diketahuinya sangat tinggi, karena itu anak sering mengajukan pertanyaan tentang segala hal yang diamatinya. Kelebihan anak-anak adalah tidak pernah “kuwalahan” apabila diberi informasi sebanyak apapun. Sedangkan kekurangan orang dewasa adalah sering “kelabakan” dalam menjawab pertanyaan anak. Seorang anak juga ingin mengetahui apa saja yang dapat dijangkau pikirannya. Anak-anak bahkan ada yang suka mendengarkan orang dewasa yang sedang berbicara, kadang mereka juga mencoba ikut terlibat dalam pembicaraan orang dewasa. Selain butuh informasi anak juga butuh pengakuan, dan penghargaan. Berbagai keperluan tersebut, terutama keperluan akan informasi, harus diupayakan untuk dipenuhi agar pengetahuan dan wawasan anak semakin bertambah seiring dengan bertambahnya usia. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan anak tersebut, maka (lagi…)
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: aktif, bahasa, belajar, efektif, evaluasi, ide, integral, integrasi, komunikasi, kurikulum, otentik, pembelajaran terpadu, proses, sosial
Prinsip bahasa secara keseluruhan
Berikut ini adalah beberapa prinsip penerapan bahasa sebagai suatu keseluruhan:
Pembelajaran itu merupakan proses yang terintegrasi/utuh.
Siswa bisa belajar secara efektif jika (lagi…)
Diarsipkan di bawah: PTK, bahasa, bidang, contoh, latar belakang | Tag: bahasa, bidang, contoh, latar belakang, PTK
.1 Latar Belakang
Pembelajaran bahasa Indonesia terintegrasi dalam empat keterampilan berbahasa. Salah satu keterampilan berbahasa yang cukup kompleks adalah menulis. Keterampilan menulis diajarkan dengan tujuan agar siswa mempunyai kemampuan dalam menuangkan ide, gagasan, pikiran, pengalaman, dan pendapatnya dengan benar. Menulis merupakan kegiatan yang paling kompleks untuk dipelajari dan diajarkan (Farris, 1993).
Dalam menulis seorang penulis dituntut mampu menerapkan sejumlah keterampilan sekaligus. Sebelum menulis perlu membuat perencanaan, misalnya, menyeleksi topik, menata, dan mengorganisasikan gagasan, serta mempertimbangkan bentuk tulisan sesuai dengan calon pembacanya. Pada saat menungkan ide, penulis perlu menyajikannya secara teratur. Begitu juga penggunaan aspek kebahasaan seperti bentukan kata, diksi, dan kalimat perlu disusun secara efektif. Penerapan ejaan dan tanda baca perlu dilakukan secara tepat dan fungsional. Sejumlah keterampilan tersebut menjadi bukti betapa kompleksnya keterampilan menulis.
Mengacu pada ciri keberlangsungannya, menulis dapat dipandang sebagai (lagi…)
Diarsipkan di bawah: PTK, action, action research, collaborative, konsultan, kualitatif, kuantitatif, metode, penelitian, research, strategi, tindakan | Tag: action, action research, collaborative, konsultan, kualitatif, kuantitatif, metode, penelitian, PTK, research, strategi, tindakan